Showing posts with label 2 meter band. Show all posts
Showing posts with label 2 meter band. Show all posts

Monday, 5 December 2011

Ngobrol Ngalor Ngidul 0407

Ngobrol Ngalor Ngidul 0407  

Omni Directional Antenna untuk band 2 M, bagian III


kalo’ ada pertanyaan silah kirim via orari-news@yahoogoups.com, atau langsung ke
unclebam@indosat.net.id


Errata:
Pas 2 hari sesudah BEON 0406 edisi November 2004 beredar, malam-malam di 40M perangkum dapat “komplain” dari salah seorang pembaca BEON yang ber”mata jeli” : “mas BAM, apa kurva distribusi arus pada antenna 5/8l di BEON terakhir ‘nggak salah ….., dan ceritanya kok gak ‘nyambung …… dst.”.

Lha ya saya mesti bilang apa selain berkilah: “Memang iya, karena ada sedikit  kesulitan teknis waktu memindahkan orèk-orèkan saya ke format ready to print sebelum edisi tsb. “naik cetak” …...”

So, alinea ke 3 pada rubrik ‘ngobrol-‘ngalor-‘ngidul di BEON 0406 tersebut seharusnya  tertulis (dan tergambari) sbb.:


Quote: Mengamati distribusi arus (current distribution) pada antena 5/8l ini, maka  kalau pada gambar berikut ujung/titik A dianggap sebagai feedpoint, terlihat bahwa ujung ini berada di titik voltage maxima yang berimpedansi tinggi, yang tentunya tidak akan cocok untuk di umpan lewat kabel coax 50 ohm yang umum dipakai.

Ujung satunya lagi (ujung/titik B) – dari mana signal di”lempar” ke udara atau dipancarkan – justru berada di posisi yang serba ‘nanggung, karena idealnya signal kan dipancarkan dari titik di mana terdapat current maxima. Nah, untuk “mengakali” bagaimana impedansi di ujung A bisa diturunkan dan secara elektrikal posisi ujung B bisa digeser mendekati titik di mana terdapat current maxima (sehingga pancaran lebih efisien), pada pembuatannya di ujung A (feedpoint) lantas ditambahkan sebuah coil (L), yang di samping berfungsi sebagai impedance transformer, juga sekaligus sebagai sebuah loading coil yang “seolah” (secara elektrikal) menambah ukuran panjang elemen, dst …. unquote

PS: si “mata jeli” tsb adalah OM Rudy, YBØNM – yang dalam sejarah per-antenna-an  negeri ini pernah bikin rekor (yang tak terpecahkan sampai hari ini) dengan merakit, menaikkan dan mengoperasikan antenna 80M terbesar yang pernah ada di bumi pertiwi:  3 elemen FULL SIZE 80M wire-beam dengan ketinggian feedpoint sekitar 1/2l — indeed it was a real “awesome project”, OM (!) —, yang walaupun sekarang ini bakal susah untuk dibikin “duplikat”nya, suatu saat boleh dong OM tulis di BEON ini “cerita dibalik berita” kisah sukses dari zaman Hamboree Cibubur awal 80’an itu ….


The Slim Jim Antenna
Di wedaran tentang J-Pole di edisi kemarin dijelaskan sepintas bagaimana memakai  quarter wave (1/4l) matching STUB untuk mengumpan sebuah antenna 1/2l pada titik voltage maxima-nya. Sepanjang stub tersebut, dari atas (sisi terbuka yang tersambung ke elemen antenna) ke arah bawah (sisi tertutup) impedansi akan bergerak menurun. Dengan menaik-turunkan posisi “shorting bar” sepanjang sisi bawah stub tersebut bisa dicari titik pengumpanan  (feedpoint) dengan impedansi 50 ohm - yang sama dengan impedansi saltran/coax-nya sehingga bisa ketemu SWR 1:1 di situ.   

Karena diinstall pada posisi tegak terhadap permukaan bumi, J- pole berpolarisasi  vertikal dengan arah pancaran yang omnidirec- tional. Vertical radiation (radiasi ke-arah vertikal) cenderung mengarah ke atas, yaitu ke ujung atas antenna, yang sebenarnya kurang bagus untuk antenna VHF, karena idealnya radiasi vertikal tersebut  bisa mengarah SEJAJAR (parallel) dengan Ground (!). Kondisi ideal inilah yang lantas
dijajagi kemungkinannya oleh OM Judd, G2BCX dengan antenna Slim Jim-nya.

Sebutan Slim Jim (= si langsing Jim) merujuk kepada “hasil akhir”rancangannya, yang memang terlihat langsing dan menggunakan J-I-M (akronim dari J-Integrated-Match-ing system) sebagai matching unit yang menyatu (integrated) dengan antennanya.

Dengan sudut pancaran (radiation angle) yang cukup rendah, Judd meng-claim Slim Jim  bisa 50% lebih efisien ketimbang 2 jenis GP/ Ground Plane (1/4 dan 5/8l) yang diwedar di edisi duluan, walaupun di edisi kemarin disebutkan bahwa antenna 5/8l teoritis sudah bisa menghasilkan Gain sekitar 3.3 dBi, atau setara dengan 1.2 dB ketimbang atau diatas vertical halfwave Dipole biasa ….

Cara kerja Slim Jim
Salah satu sebab dari pertambahan efisiensi tersebut adalah karena berbeda dengan J-Pole yang memakai Dipole 1/2l sebagai radiator, Judd memakai 1/2l FOLDED Dipole (dipole yang dilipat) sebagai radiator pada rancangannya.

Teoritis, pemakaian Folded Dipole - yang sebenarnya merupakan sebuah Loop mini dengan elemen sepanjang 1ë (2x 1/2l) - sudah memberikan setidaknya sekitar 1,5 - 2 dBd, walaupun sebenarnya bukan penambahan Gain ini yang di”uber” Judd. Dengan konfigurasi seperti inilah (folded dipole pada posisi tegak/vertikal dan diumpan disalah satu ujung (end-fed) lewat 1/4lmatching stub) G2BCX lantas menemukan antenna yang dapat memberikan pancaran vertikal yang hampir sejajar (= 00) dengan Ground, sehingga pancarannya bisa benar-benar terarah seperti yang di”angan”kannya, yaitu menyebar lurus (ke arah luar) dan sepenuhnya omnidirectional.

Sebagai perbandingan, kedua antenna GP yang disebut duluan pancaran vertikalnya justru  mengarah keatas (tilted up) dengan sudut pancar (radiation angle) sekitar 300 atau malah lebih (!)


Distribusi arus pada kedua kaki Folded Dipole fasanya sama (=equal), sedangkan pada  kedua kaki Stub fasanya saling berbalikan (=opposite), sehingga pada stub tersebut TIDAK usah dikhawatirkan ada arus liar (imbalance atau common mode current) yang bakal merobah pola radiasi, menyebabkan RF feedback dsb. Seperti disebutkan di atas, 1/4l stub akan memberikan titik low impedance di sisi bawah, sedangkan ujung atau sisi atas berfungsi sebagai coupler dengan titik high impedance dari radiator. Adanya stub ini membuat Slim Jim sama sekali tidak memerlukan radials atau ground plane apapun, yang membuatnya praktis buat dibawa-bawa (WKG por- table, emergency, operasi Dukom/Bankom, ARES, Field Day, mudik dan sebagainya.

Membuat (dan merakit) Slim Jim antenna
Slim Jim tidak terlalu rewel dalam pembuatan dan perakitannya. Hampir semua jenis  “konduktor” bisa dipakai untuk ‘ngebahan an- tenna ini: kawat jemuran, kawat las, kawat tembaga berbagai diam- eter, aluminium tubing segala ukuran (dari segi kepantasan dan kemudahan handling/penanganan serta pengerjaan biasanya dipakai diameter 1/4 - 3/8”), atau bahkan 300 ohm TV feeder (yang terakhir ini karena spacing atau jarak antara kedua konduktor/elemen TIDAK terlalu kritis untuk diikuti).

Buat yang punya alat untuk menekuk pipa aluminium, tentunya ‘nggak masalah untuk membuat tekukan pada ujung atas bagian folded dipole tersebut, tapi buat mereka yang cuma dilengkapi alat bertukang yang paling basic, ya terpaksa aluminum tubing dipotong-potong sesuai ukuran. Untuk jarak antar kaki bikin ‘aja spacer sepanjang 6-10 cm,  yang kemudian disambung-sambung seperti cara penyambungan ujung bawah matching stub pada gambar berikut

TIPS: bikin slit – belahan – sepanjang 0.5 - 1 cm di ujung-ujung potongan pipa yang mau disambung. Dengan palu kethok bagian yang sudah dibelah tsb sampai jadi rata (kalau bisa), atau pal- ing tidak jadi oval. Penyambungan dilakukan dengan meng“adu manis” (ini mah istilah tukang kayu di daerah Jawa Barat) potongan-potongan aluminum di bagian yang sudah diratakan tersebut sekrup atau rivet.


Seperti terlihat pada gambar, ujung bawah salah satu kaki Folded Dipole harus diisolir  dari kaki matching stub, dan sebagai bahan untuk isolator ini bisa dipakai acrylic, pertinax, PVC (pralon), atau berjenis plastik (ada lho yangmembuatnya dari bekas batang ball point atau supidol!).

Titik-titik koneksi dengan saltran/coax pada sisi bawah matching stub dicari pada proses 
penalaan, dan begitu ketemu mesti di “mount” baik-baik supaya’nggak “lari” atau berubah settingnya. Ujung- ujung inner dan outer con- ductors coax sebaiknya di terminasi dengan cable shoe sebelum disekrup atau dirivet ke kaki-kaki stub (lihat cara penalaan di bawah). Seyogyanya “daerah” koneksi ini dibikin water dan weather proof, dan untuk ini bisa dimanfaatkan berbagai ukuran dan merek  kotak MCB dari plastik yang gampang dicari ditoko-toko listrik. Kalau plastik dasar kotak tersebut cukup tebel (kalau ‘nggak ya di”lapis” dari dalam dengan keping acrylic3-5 mm), nantinya bisa sekalian difungsikan sebagai “dudukan” mount- ing bracket untuk “memegang” sepotong pipa PVC atau dowel yang merupakan “pegangan” untuk mounting struktur antenna ke mast/tiang. Kalau ‘nggak bisa ‘ndapetin keping acrylic, tentunya bisa diakalin dari tripleks atau plastik tebel saknemunya (siapa yang berani coba paké potongan plastik bekas telenan/chopping board yang dengan mudah bisa dipulung dari dapur XYL …… ?)

Penalaan:
Pasangkan alligator clip (jepit buaya) di masing-masing ujung konduktor coax, terusjepitkan ke masing- masing kaki stub pada posisi +/- 7-8 cm dari arah bawah (area yang biasa disebut sebagai cold-end).
Injeksikan signal dan lihat berapa penunjukan SWR-nya. Kalau semua petunjuk perakitan dan instalasi diikuti denganbaik dan seksama, pada kesempatan pertama di”kenalin” signal RF tersebut biasanya SWR< 2:1 sudah bisa langsung ketemu. Sekarang tinggal proses fine tuning untuk mendapatkan SWR 1:1, yang bisa dilakukan dengan pelan-pelan  menaik-turunkan posisi jepitan sambil mengamati penunjukan SWR.


Kalau SWR 1:1 sudah ditemukan, tandai titik jepitan terakhir tersebut. Ganti alligator  clip dengan cable shoe, terus dengan self tapping screw (sekrup tanam) sekrupkan ke bekas yang sudah ditandai tadi.  

Nah, kembali obrolan kali ini kita cukupkan sampé di sini dulu, dan seperti biasa untuk edisi mendatang perangkum menunggu usulan dari “forum” topik apa lagi yang enak

buat diobrolin di rubrik ini … So, until then …. CU ES 73.

Ngobrol Ngalor Ngidul 0406

Ngobrol Ngalor Ngidul 0406  


Omni Directional Antenna Untuk Band 2 M, bagian II

kalo’ ada pertanyaan silah kirim via orari-news@yahoogoups.com, atau langsung ke
unclebam@indosat.net.id


Antena 1/4l yang diwedar di edisi kemarin layaklah kalau disebut sebagai entry point buat rekan amatir radio yang mau belajar homebrewing dengan merakit sendiri antenanya.

Taruhlah “proyek antena” yang pertama tersebut sudah diselesaikan, ditala, diujicoba dan digunakan… tentunya lantas terpikir untuk mencari rancangan lain dengan kinerja yang seharusnya lebih baik dari antena pertama tersebut. Pantas-pantasnya, yang lantas terbayang untuk dieksperimen berikutnya adalah antena 1/2 l (atau 2 x 1/4 l). Tapi, kebanyakan praktisi perantenaan lantas memilih untuk ‘loncat satu step lagi, yaitu dengan menjajal antena 5/8 l (yang= 1/2+1/8 l), yang di kalangan homebrewers memang menduduki ranking ke dua (sesudah antena 1/4 l) dalam popularitasnya, baik sebagai antena di base, mobile atau untuk dibawa working portable.

Antenna 5/8 l menjanjikan sudut pancar (radiation angle) yang lebih rendah, dengan gain sekitar 3 dB (= penguatan 2x) ketimbang “adik”nya yang 1/4 l. Ini berarti untuk komunikasi jarak dekat (misalnya dari base station ke repeater lokal di atas gedung tinggi atau bukit terdekat) mungkin antena 1/4 l dengan sudut pancar yang lebih tinggi (higher radiaton angle) akan menunjukkan kinerja yang lebih baik dari segi reliability dalam menjamin komunikasi selama 24 jam, tapi untuk jarak sedang dan jauh tentunya sang “kakak” akan lebih berjaya ….

Walaupun banyak merek bikinan pabrik yang beredar di pasar, sepertinya selama beberapa dasawarsa ini merek Larsen dari Amrik (atau tiruannya) masih tetap mendominasi pasar.

Ukuran antena 5/8 l
Seperti juga waktu membahas antena 1/4l, kita ambil saja ukuran yang selama ini lazim  dirujuk para homebrewers, yaitu 47” atau ±120 cm.

Sebenarnya antena 5/8 l sudah mau dan bisa bekerja baik TANPA radials, tapi buat yang  kurang pédé dengan konfigurasi tanpa radial ini, silah pakai radial ukuran 19” seperti yang dicontohkan pada wedaran tentang antena 1/4 l di edisi kemarin.

Mengamati distribusi arus (current distribution) pada antena 5/8 l ini (lihat gambar  berikut), maka kalau ujung A dianggap sebagai feedpoint, ujung ini berada di titik voltage maxima dengan impedansi tinggi, yang tentunya tidak akan cocok untuk di feed dengan kabel coax yang umum dipakai.


Sedangkan ujung B – dari mana signal di”lempar” ke udara atau dipancarkan - berada di  posisi yang serba ‘nanggung (idealnya kan signal dipancarkan dari point di mana terdapat current maxima) Karenanya, untuk “mengakali” bagaimana impedansi di ujung A bisa diturunkan dan secara elektrikal posisi ujung B bisa digeser mendekati titik di mana terdapat current maxima (sehingga pancaran lebih efisien), pada pembuatannya di ujung A (feedpoint) lantas ditambahkan sebuah coil (L), yang di samping berfungsi sebagai impedance transformer, juga sekaligus sebagai sebuah loading coil yang “seolah” (secara  elektrikal) menambah ukuran panjang elemen (lihat skema berikut).


Membuat antena 5/8 l:
Untuk mounting bracket dan radials bisa diambil atau dicontèk saja ukuran-ukuran, bahan dan cara pembuatan seperti yang di wedar di edisi lalu.
Untuk radiator atau elemen yang ± 120 cm tersebut - tergantung pada pemakaiannya nanti – anda bisa memilih salah satu diantara kawat stainless steel (baja nirkarat) diameter 1/16”, atau kawat tembaga AWG #10 (2,5 mm), atau aluminium tubing - seyogyanya dibuat teleskopik dari tubing dengan diameter 1/4 s/d 5/8” .
Untuk yang mau memasangnya di mobil, tentunya bahan stainless steel 1/16” yang jadi pilihan (supaya ‘nggak patah kalau kebetulan nggak sadar mesti ‘ngebrobos di bawah portal), sedangkan kawat tembaga lebih cocok untuk dipakai indoor atau digantung.
Untuk pemakaian outdoor atau portable (camping, mudik) tentunya konstruksi dengan  aluminium tubing yang jadi pilihan karena disamping yang paling kokoh di antara ketiga pilihan, juga proses penalaannya lebih mudah karena tinggal di”tarik-ulur” untuk mendapatkan SWR terbaik.

Proses perakitan
Kali ini tidak akan diberikan detail perakitan, karena banyak sekali kemungkinan yang  bisa dijajagi sesuai dengan ingenuity (keprigelan) masing-masing calon perakit.
Sekadar informasi, kalau itungannya bakal jatuh mahal untuk membeli baru, bahan kawat  stainless steel bisa dipulung dari bekas mobile antena tetangga sebelah (CBers), atau dari whip antena bekas aplikasi komersiil dan militer.
Disamping itu, di era PVC dan serba plastik sekarang ini (yang distribusi arus pada antena 5/8 λ belum ada di tahun 80an doeloe), banyak dan mudah dijumpai aksesories untuk urusan sambung-menyambung (bisa berbentuk adap- tor, bloksok, kap/dop dll) yang bisa  dialihgunakan untuk urusan rakit- merakit ini (misalnya: kap/dop bisa dimodifikasi untuk mounting koker/ coil L1 ke mounting bracket, berjenis adaptor dan bloksok bisa   dipakai sebagai reducer untuk menyambung coil L1 dengan radiator dsb).

Untuk menyambung ujung-ujung coil ke elemen dan ke ground bisa dipakai berjenis cable-shoe (tinggal pilih yang berbentuk fork, ring dsb), yang bisa disekrupkan ke elemen (atau ground) dengan self-tapping  screw (sekrup tanam).

 
ANTENA 1/2 l
Kecuali untuk driven element pada sebuah Yagi, di band 2 M jarang dipakai antena 1/2 l  dalam bentuk dipole antenna (yang center-fed, atau dengan feedpoint di tengah). Dengan karakter center-fed dipole sebagai directive antena, tentunya di luar lingkup bahasan tulisan ini yang “membatasi” untuk ‘ngebahas tentang omni-directional antenna saja.

 Kalau antena ini diumpan dari salah  satu ujung (end-fed), kembali - seperti pada antena 5/8 l - akan dijumpai kenyataan bahwa di feedpoint tersebut akan didapati voltage maxima dengan impedansi tinggi sehingga ‘nggak  bisa difeed pakai coax … Problem solving (pemecahan masalah) untuk mengatasi hal ini disamping dengan menambahkan coil di feed point seperti yang diwedar di atas, juga bisa dengan memberikan quarter wave matching stub seperti yang bisa diamati pada antenna J-Pole rancangan Lee Aurick, W1SE yang skemanya diberikan berikut ini.

J-Pole berpola pancar omni-directional dengan radiation angle yang lebih tinggi  ketimbang antena 1/4 dan 5/8 l yang duluan diwedar, dan sama sekali tidak memerlukan radial atau ground plane (yang fungsinya sudah di”rangkap” oleh matching stub).

Keterangan:
· Total panjang elemen = (1/2 + 1/4) l = ± 145 cm
· Isolator bisa dibuat dari keeping acrylic, fiber glass atau pertinax
· Shorting bar bisa dibuat dari sheet aluminium atau tembaga 1-2 mm
· Adjustment pada proses penalaan dilakukan dengan “memainkan” jarak antara  titik koneksi (klèm) dan shorting bar serta Trimmer 20 pF sampai ditemukan SWR 1:1 (buat yang sudah biasa “main” dengan antenna Yagi tentunya bisa mengenali kombinasi komponen-komponen klèm, kawat penghubung ke pin inner conductor konektor SO-239 (atau bisa pakai aluminium rod) dan trimmer ini sebagai sebuah gamma match, yang memang dipakai untuk meng-coupling signal dari sumber sinyal ke antena).

Kembali, untuk perakitannya terserah kepada masing-masing ca- per (calon perakit) untuk berimprovisasi dalam mengembangkan keprigelan-nya, karena dari sononya sebenarnya yang terniat adalah memberi pancing (lengkap dengan mata kail-nya), dan bukan langsung menyajikan sepiring ikan mas goreng (yang “kemebul”) sebagai menu utama serial tulisan ini ;-)

Nah, kembali obrolan kali ini kita cukupkan sampé di sini dulu, di edisi mendatang (bagian akhir serial ini) kita tengok rancangan “antenna sejuta ummat” era 80’an, yaitu Slim Jim antenna. 73

Ngobrol Ngalor Ngidul 0405

Ngobrol Ngalor Ngidul 0405  

Omni Directional Antenna Untuk Band 2 M

kalo’ ada pertanyaan silah kirim via orari-news@yahoogoups.com, atau langsung ke
unclebam@indosat.net.id

Beberapa waktu belakangan ini banyak rekan yang minta topik di atas diobrolin di BEON ini. Well, kenapa ‘nggak? Dengan segala kemudahan kepemilikan perangkat untuk band ini, buat sebagian besar rekan amatir band 2 M adalah entry point mereka buat masuk ke dunia amatir radio, sehingga walaupun agak menyimpang dari kebiasaan (yang lebih mengutamakan bahasan tentang antenna untuk band HF), kali ini penulis coba untuk flash back ke tahun 80an, zaman keemasan band 2 M di bumi anak negri ini ....

Banyak diantara rekan amatir yang mengawali perkenalannya ke dunia radio amatir lewat  kepemilikan handy-talky (HT) dari bermacam merek.
Macam manapun antena yang built-in di handy talky tersebut — ada yang berbentuk telescoping whip yang kalo’ mau maké mesti di”dudut” dulu sepanjang mungkin, atau yang berbentuk antenna pendek sepanjang dan segedé jari (ada yg seukuran jari telunjuk, ada pula yang seukuran jempol - yang lazim disebut rubber duckie) — inilah antenna omni-directional (memancar ke-semua arah) pertama yang mereka kenal.
Hampir semua antena pada handy-talky tersebut adalah antena 1/4l yang telah dipendekkan dengan berbagai cara, supaya praktis buat dicolokin (atau disekrupkan) di terminal antenna pada HT yang tambah hari tambah kecil aja dimensinya ....
Trus, kalo’ ada yang mau punya atau bikin sendiri antena 1/4l dengan ukuran yang full  size – apa buat ditaruh di grobak, atau diklèm di ujung selonjor pipa 6 meteran supaya jangkauannya bisa lebih jauh – bagaimana kita bisa tahu ukuran-ukurannya?

Ukuran antenna 1/4l
Karena antena 1/4l sebenarnya merupakan satu sisi (atau separuh) dari sebuah dipole  1/2l, adalah syah-syah aja kalo’ ada yang menghitungnya dengan membagi 2 hasil itungan berdasarkan rumus perhitungan antenna dipole 1/2l yang L = 143/f itu (baca kembali edisi-edisi awal serial ini).
Tapi, rumus tadi sebenarnya lebih umum dipakai untuk menghitung panjang dipole antenna  (yang terbuat dari kawat) di rentang band HF. Pada rumus tersebut K-factor (ratio antara panjang gelombang dan diameter konduktor yang dipakai untuk ‘ngebahan antenna) TIDAK diperhitungkan dengan teliti.
Untuk keperluan sehari-hari dalam meracik antena 1/4l untuk band 2M (144-148 MHz), amatir di seantero penjuru angin lantas merujuk pada ukuran yang selama ini selalu disebut di literatur: potong aja tubing aluminium dengan ukuran panjang 19” (=48,26 cm). Kalo’ anda mau merakit sendiri antenna 1/4l ini sebagai
“proyek antenna” anda yang pertama, seyogyanya ukuran tersebut dipanjangin ‘dikit, toh ukuran persis-nya nanti dicari waktu proses penalaan (lebih gampang memotong daripada mesti menyambung, kan !?)


Membuat antenna 1/4l
Karena antena 1/4l adalah satu sisi (atau separuh) dari sebuah dipole 1/2l (amati  Gambar 1 sebelah kiri), untuk bisa bekerja dengan baik sebuah antena 1/4l harus dilengkapi dengan ground plane (arti harafiah: bidang pertanahan) yang berfungsi menggantikan atau mengembalikan sisi lain dari dipole dalam melengkapi kurva perjalanan arus (current) nya.  
Pada sebuah HT, ground plane ini bisa berupa tubuh (body) si operator, sedangkan pada  instalasi di atas kap mobil, ground plane   instalasi di atas kap mobil, ground plane

Trus bagaimana kalo’ kap mobilnya dari fiberglass, terpal atau canvas? Nah, daripada ragu karena adanya faktor “tidak-ada- ground plane” ini, kalau memang diniatkan untuk membuat antena 1/4l yang bisa dipindahpakaikan ke mana-mana (misalnya dari atas rak buku di hamshack ke lijstplank atau tritisan rumah, trus lain kali mau dipaké working mobile paké mobil pick-up), silah membuatnya sesuai dengan juklak berikut ……

Bahan:
1 lembar aluminium sheet tebal 1 – 3 mm, potong menjadi bentuk persegi panjang  ukuran 10 x 25 cm (untuk          mounting bracket).
50 cm kawat baja*), kuningan atau tembaga diameter 1/16” (yang cukup kaku  untuk bisa berdiri tegak tanpa          penunjang) untuk element antenna atau radiator.
2 mtr tubing aluminium 3/8” atau 1/4”, potong menjadi 4 batang @ 50 cm - untuk ground plane (atau radial).
1 bh female coaxial connector SO-259 (jenis untuk ditanam di chassis, ada dua model yang berbeda pada             cara mounting-nya, lihat keterangan di bawah)
4 set sekrup # 10 lengkap dengan baut dan ring-nya (untuk mengencangkan  SO-239 pada bracket)
       16 set sekrup # 10 batang panjang (+/- 2 cm), lengkap dengan baut dan ring-nya (bisa diganti dengan             rivet, dengan ukuran yang kurang/lebih sama).
1 – 2 bh U-clamp (klèm knalpot) ukuran 1/2” – untuk meng- klèm bracket ke mast  (yang biasanya dari pipa      galvanized atau tubing aluminium 1/2”)

*) untuk kawat baja sepanjang ini bisa dipakai jeruji (jari-jari) roda becak yang  disambung dengan dilas, atau bisa juga dipulung dari bekas whip-antenna (biasanya antenna 5/8l) komersiil atau buatan pabrik seperti Larsen, Comet, Diamond dll.

Pembuatan Mounting bracket:
1. Dengan cutter, bikin garis (tipis saja, jangan terlampau dalam) yang membagi  aluminium-sheet menjadi 2 bidang, masing- masing 10x10 dan 10x15 cm. Bidang 10x10 cm disediakan untuk dudukan coaxial connector dan radials, sedang bidang 10x15 cm disediakan untuk pemasangan U-clamps (Gambar 2).
2. Tepat di-tengah-tengah bidang 10 x 10 cm buat lubang dengan diameter 1/2” (untuk dudukan konektor)
3. Pastikan konektor SO-259 bisa masuk di lubang tsb. Untuk model dengan sekrup di keempat sudut, gunakan konektor tsb sebagai template (maal) untuk membuat 4 lubang kecil (untuk sekrup # 10) untuk (nantinya) menyekrupkan konektor ke aluminium sheet. Kalau aluminium sheetnya cukup tebal (> 2 mm), cukup bikin 2 lubang saja dengan posisi menyilang/ diagonal satu sama lain.
4. Siapkan lubang-lubang untuk menyekrup (atau me-rivet) keempat radials, yang bisa  dipasang dengan 2 alternatip seperti pada Gambar 3.


5. Pada bidang 10 x 15 cm buat lubang-lubang untuk pemasangan U-clamps, dengan mengambil jarak +/- 2cm dari tepi/pinggir bidang. Kalau aluminium sheetnya cukup tebal (>2 mm), cukup bikin 2 lubang untuk U-clamp di arah bawah saja, sedang di sisi atas cukup buat 1 lubang persis di tengah-tengah (lihat Gambar
4 kanan)


6. Kalau proses 1 s/d 5 sudahGtaemrsbearle4saikan dengan baik, dengan erpedoman pada garis yang dibuat menurut proses 1 tekuklah aluminium sheet sampai kedua bidang (10x15 dan 10x10 cm) membentuk sudut 900. Pada tahap ini mounting bracket sudah mulai “kelihatan” bentuknya.

Perakitan:
1. Pasang konektor SO-239 pada lubang yang sudah dibuat dengan bagian yang ada draad  (ulir) menghadap ke bawah. Kencangkan pemasangan sesuai model yang didapat (ada yang memakai sekrup kecil di keempat sudut, ada yang pakai ring dan baut pengencang – yang disebut belakangan ini lebih cocok untuk keperluan ini).
2. Pasang keempat ground plane sesuai alternatip pemasangan yang dikehendaki. Untuk sedikit memudahkan pemasangan, dengan palu ukuran sedang kethok bagian tubing aluminium yang nanti ‘nempel di bracket sampai bentuknya berubah menjadi agak oval. Jangan terlalu kenceng ‘ngethoknya sampai tubing menjadi pipih/rata, karena bisa mengurangi kekuatannya (dan jadi getas/brittle sehingga mudah patah) pada waktu radials harus ditekuk pada proses penalaan.
3. Pasang U-clamp di tempat yang sudah disediakan (dan dilubangi). Seperti disebut di  depan, kalo’ aluminium sheetnya cukup tebal, pengeklèman cukup di bagian bawah saja, sedang di bagian atas, di samping mast atau pipanya dipentokin sampé bidang (dudukan) konektor, juga pipanya dilubangi tembus, untuk nantinya - lewat lubang yang sudah disediakan - dengan sekrup panjang disekrupkan ke bracket.


Penalaan:
1. Hubungkan TX ke antena dengan kabel coax RG 58/A atau RG8/A. Kalau jarak TX ke antena tidak terlalu jauh (< 10 mtr) mungkin coax RG 58/A lebih cocok dipakai karena lebih mudah penanganannya. Kabel jenis ini cukup lemas (flexible), sehingga pada ujung yang akan disambung ke antena dengan mudah bisa dibuat choke balun dengan menggulung ujung coax sebanyak 4-6x gulungan dengan diameter +/- 10-15 cm (ukuran-ukuran tidak terlalu kritis untuk diikuti). Untuk sementara (pada proses penalaan) gulungan ini bisa diikat dengan cellotape atau plakban aja, tapi pada saat instalasi nanti seyogyanya ikatan diganti dengan nylon cable ties yang lebih kuat dan tahan cuaca.
2. Injeksikan signal ke antena (paké power kecil aja, asal bisa ‘ngegoyang SWR meter). Lihat di frekuensi mana SWR meter menunjukkan ratio yang paling kecil (tidak perlu sampé 1:1),  untuk memperkirakan frekuensi resonan antena anda. Jangan kaget kalo’ frekuensi resonan berada jauh di bawah, malah mungkin di luar band 2M yang membentang sepanjang 4 MHz itu (144-148 Mhz).
3. Pindahkan frekuensi ke frekuensi favorit anda. Lakukan pengetriman (pruning, proses memotong sedikit demi sedikit) ujung element sampai didapat SWR yang paling kecil kembali (tidak perlu sampé 1:1). Ingat untuk melakukan juga pemotongan yang sama pada ujung ke empat radials.
4. Dengan proses tsb di atas, biasanya sudah bisa didapat SWR sekitar 1.5 : 1 di sepanjang band. Untuk mendapatkan SWR 1:1di frekuensi favorit, TEKUKlah ke empat radials ke arah bawah, sehingga membentuk sudut sekitar 30-40" terhadap permukaan bracket. Kalo’ perlu lakukan proses penekukan
dengan mencopot dulu keempat radial tersebut (makanya kalo’ anda mau memakai rivet, sampai proses ini pakai saja sekrup + baut dulu, baru kalo’ antena sudah betul-betul  “siiip” radialnya boleh dirivet satu-satu).

Lewat proses di atas selesailah sudah full size 1/4l ground plane antenna anda, dan siap dipasang dimanapun anda mau. Kalo’ cuma mau ditaruh di rak buku atau lijstplank tentunya U-clamp-nya ‘nggak perlu dipasang, cukup sekrupkan aja mounting bracket-nya langsung ke permukaan tegak yang lurus dan rata di rak buku atau lijstplank tersebut. Kalo’ mau dipasang di buritan pick-up, idealnya memang harus dipasang pakai tiang atau pipa sepanjang 1-1.5 mtr. Pipa ini yang lantas di klèm ke bumper belakang, Atau seperti disebut di awal, antena ini bisa juga dipasang di ujung selonjor pipa 6 meteran yang bisa ditancepin dekat atau disenderin di pager depan rumah. Dengan antena outdoor setinggi ini mungkin anda lantas bisa triggering repeater Seklok yang ‘nggak bakalan kebuka kalo’ cuma paké rubber- duckie di HT anda ....

Nah, kembali obrolan kali ini kita cukupkan sampé disini dulu, di edisi-edisi  mendatang kita tengok jenis-jenis antena yang mudah di homebrew dan pernah sangat populer di negeri ini: antenna 5/8l, J-Pole dan Slim Jim. Dua nama terakhir sebenarnya berawal dari desain yang sama, yaitu J-Pole yang duluan terkenal di Whiskey-land sono, sedangkan Slim Jim adalah pengembangannya oleh OM Judd, G2BCX dari G-land (yang pada
zamannya pernah jadi antenna “sejuta ummat” di bumi Pertiwi ini).