Showing posts with label bahan. Show all posts
Showing posts with label bahan. Show all posts

Sunday, 4 December 2011

Ngobrol Ngalor Ngidul 0311

Ngobrol Ngalor Ngidul 0311  


Subtitusi Komponen Perakit Antena — Spreader

Ada pertanyaan? Sila kirim ke orari-news@yahoogroups.com atau konsultasi langsung ke
unclebam@indosat.net.id

Sekadar mengingatkan kembali, di ak- hir clotèhan tentang aluminium tubing & berbagai  aplikasi/substitusinya di edisi lewat, penulis janji di edisi ini mau ‘ngob- rolin tentang substitusi buat komponen- komponen lain pada perakitan antena.

Rancangan antena Cubical Quad memerlukan spreader untuk merentang elemennya. Kecuali buatan HyGain yang menggunakan spreader pipa aluminium, hampir semua Cubical Quad buatan pabrik menggunakan spreader dari fibre glass rod atau tubing. Untuk spreader sepanjang 4 meteran, para homebrewer memakai vaulting pole (ga- lah untuk loncat galah), pipa PVC schedule 40 (dipakai untuk jaringan plumbing/perpipaan air panas) atau joran fibre glass yang teleskopik itu. Rasanya bahan-bahan macam gitu- an masih susah dicari di sini, kalau pun ada harganya selangit (karena masih diimpor). Kalau kebeli pun ’nggak bakalan diikhlasin begitu sa- ja dipotong-potong buat spreader. Pipa PVC biasa yang banyak dijum- pai di pasaran (merek Pralon, Wa- vin, Banlon dan Rucika) dengan panjang segitu bakalan melintir atau bengkok dalam waktu satu-dua minggu sesudah dipasang di atas.

Lha ya kita kembali saja ke alam: cari saja bambu joran yang biasa di- pakai untuk  mancing di laut—yang macam gini ada yang panjangnya sampai 6 meteran! Di Jakarta awal 80'an, penulis ‘ndapetinnya di Pasar Ikan dekat Pelabuhan Sunda Kela- pa (malunya, lokasi ini didapat atas rekomendasi OM Barry, 9M2RR yang sewaktu masih tinggal di Jakarta doeloe memang seneng ‘ngla- yap sampai keplosok-plosok). Setelah iberi epoxy resin treatment (seper- ti pada cara pembuatan Boom di edisi lewat) batang-batang bambu (pangkalnya ‘nggak gedé-gedé ba- nget, ujungnya juga ‘nggak kecil-ke- cil amat) untuk dimanfaatkan sebagai spreader bagi 2 band (15 - 10 m) 2 element Cubical Quad.

Buat yang awam soal perbambuan, biar ‘nggak keliru pilih —di bebera- pa tempat bambu ‘ginian dipakai juga untuk tangkai sapu atau lem- bing (untuk olah raga lempar lembing di sekolah-sekolah). Sejak kira- kira 10 tahun belakangan ini, di kota-kota gedé ada juga bambu ma- cam ‘ginian (cuma daging batang- nya agak tipisan— ada yang menye- butnya sebagai bambu Jepang) yang banyak ditanam sebagai pagar di kawasan real estate, pinggiran lapa- ngan golf dan sebagainya. Asal bisa berbaik-baik dengan Satpam, tu- kang kebun atau petugas kebersi- han di lingkungan situ, kalau mau barang 4 - 5 batang saja sih kayanya masih bisa dapat gratisan (asal mau ‘motong sendiri, tentunya).

CATATAN:
buat yang suka ekspe- rimen pakai pipa atau batang PVC (suka salah kaprah disebut sebagai “pipa pralon”, padahal Pralon ada- lah sekadar salah satu merek dari bermacam pipa PVC yang ada di pasaran), akhir-akhir ini sudah ada PVC schedule 40 di pasaran (untuk perpipaan catu air panas di toko- toko yang jual material bangunan) yang disebut di atas.

Yang ini buatan Wavin dan dipasar- kan dengan sebutan Wavin Tigris Green. Untuk  ukuran yang lebih kecil ada merek Circlip, yang sejak beberapa waktu sudah umum dipakai di lingkungan instalatir kelistri- kan. Kedua merek tersebut juga menyediakan aksesorinya, macam sok sambung, T-connector, adaptor penyambung dua pipa dengan diameter yang berbeda (bagus untuk bikin sambungan telescopic)

Nah, kita akhiri di sini dulu ‘ngob- rol-‘ngalor-‘ngidul kali ini, buat edi- si depan kita cari aja topik lain (ya seperti air mengalir gitu lah, sak ke- temunya aja apa yang ketemu) yang enak buat diobrolin.

So until then, just stay tuned CU ES 73!

[73]

Ngobrol Ngalor Ngidul 0310

Ngobrol Ngalor Ngidul 0310  

Subtitusi Komponen Perakit Antena

Ada pertanyaan? Sila kirim ke orari-news@yahoogroups.com atau konsultasi langsung ke
unclebam@indosat.net.id

Sekadar mengingatkan kembali, di akhir clotèhan tentang aluminium tubing & berbagai  aplikasi/substitusinya di edisi lewat, penulis janji di edisi ini mau ‘ngobrolin tentang substitusi buat komponen- komponen lain pada perakitan antena.


Kali ini kita coba back-to-basic dulu, taruhlah kita lagi ancang-ancang mau naikin wire antenna macam antena dipole (atau berbagai variantnya macam Inverted Vee, linear-loaded shorted dipole), atau loop antenna berbahan dasar kawat atau kabel. Kalau kawat/kabel ante- na sudah dipotong pas sesuai ru- mus & siap dinaikin, mesti dipikirin dan disiapkan juga beberapa kom- ponen misalnya isolator dan peren- tang untuk merentangkan antena di antara tiang-tiangnya. Pada jenis center-fed dipole diperlukan juga isola- tor di tengah untuk menggantung feeder line dan mengèrèk struktur an- tena ke atas, dan spacer kalau mau pakai open wire sebagai feeder linenya. Tulisan kali ini akan mengulas cara mengadakan/substitusi komponen tersebut, kalau misalnya ‘nggak ke beli baru dari toko atau memang dari sononya memang terniatkan untuk menghomebrew  semua yang memang bisa diakal-akali untuk dibikin sendiri.


ISOLATOR 
Isolator versi ko- mersial terbuat dari gelas, keramik atau porselen, yang secara elektris memang bagus banget fungsinya sebagai isolator (penyekat). Doeloe- nya, paling terkenal isolator dari ba- han Pyrex (ya, seperti yang dipakai XYL buat ‘ngopen adonan kué di oven microwave) yang memang lan- tas disebut isolator Pyrex. Tapi, iso- lator beginian memang serba berat adanya: berat di fisik (timbangan- nya) dan berat di ongkos! Untuk versi hasta karya biasanya dipakai potongan pipa pralon (PVC) 3/8,½ atau ¾" sepanjang ±10 cm yang dilobangi kedua ujungnya, sedang untuk isolator di titik tengah yangbiasanya sekaligus sebagai feed point antena dipole, inverted vee atau G5RV dengan feeder line dari coax, feeder TV atau open wire dapat di buat dari sok T (tee-connector) PVC ukuran yang sama. Sok PVC ini biasanya dibuat  pakai tulang, lebih tebal dan lebih kokoh dari pipanya sendiri, karena- nya bakal  cukup andal untuk di sa- lahgunakan sebagai center isolator yang justru mesti terus menerus ke- bebanan tarikan ke kiri-kanan dan bawah (beban berat dari feeder line).

Kalau mau isolator dengan sifat di- elektrik (penyekat) yang lebih baik, bisa dipakai  potongan aclyric strip/ teflon sheet tebal 2 - 4 mm (tergan- tung bebannya nanti) ukuran 2 x 5 cm yang dilubangi kedua ujungnya. Untuk center isolator, acrylic atau tef- lonnya dibentuk seperti lambang pa- lang merah (+) atau salib supaya e- nak ‘ngegantungnya (sisi tegak bagi- an atas ‘nggak usah sama panjang dengan sisi lain karena bagian ini nantinya cuma untuk menggantung struktur antena ke tower atau kèrèkannya).

Seperti pernah disebut di salah satu tulisan sebelum ini (cara pembuatan open wire  feeder) acrylic bisa dipulung dari bak sampah biro iklan yang membuat barang promosi dari acry- lic, sedang teflon bisa ditilep dari da- pur XYL, dalam bentuk bekas talenan (chopping board, alas untuk po- tong-memotong sayur atau daging). Teflon yang sesudah dipakai satu- dua tahun biasanya jadi item dekil sehingga tidak lagi laik pajang (dan pakai) di dapur. Kalau mau yang kualitas bagus ada yang impor (dari Amrik, Jepun atawa Korea yang biasanya mencantumkan merek DuPont™ sebagai pemasok bahan teflonnya), atau buatan lokal. Kalau ketemu yang lokal, ya ikuti prinsip teliti sebelum membeli, karena yang banyak ber- edar adalah talenan dari bahan plas- tic/nylon, bukan teflon! Yang begi- nian penulis ‘nggak berani jamin, karena baru kejemur 1-2 minggu aja sudah bakalan bengkok, ‘nglinthing dan sebagainya.

dalam praktek, usahakan menutup atau melapisi bekas titik sambungan/solderan dengan  bahan yang tahan air dan cuaca untuk menghindari shorted atau korts- luiting kalau kena hujan atau embun malam hari. Penulis biasanya pakai lem Araldit atau Epoxy Steel (yang suka dipakai untuk nembel sementara keboco- ran pada radiator). Perlakuan yang sa- ma juga lakukan pada ujung coax, seal baik-baik supaya bener-bener tertutup
dan air tidak meresap lewat situ. Untuk coax memang ada isolasi ban khusus, antara lain yang merk Coaxseal, yang liat waktu baru dibuka dari gulungan, tapi mengeras begitu diaplikasikan.

PERENTANG
Untuk meren- tang struktur wire antena dari isola- tor (di ujung kawat) ke tiang atau untuk ‘ngèrèk antena ke posisinya, dapat dipakai senar pancing nylon (mono filament nylon fishing line), yang jauh lebih kuat dan tahan cuaca serta polusi ketimbang tambang plastik yang ukurannya lebih besar, dan tidak dikhawatirkan akan ikut berresonansi seperti kalau memakai kawat. Bisa didapat dalam bentuk rol-rolan @ 30 m (100'), cari yang ketahanan bebannya (disebutkan di pembungkusnya) di atas 90 lbs atau 50 kg, dengan Ø 0,5 - 1,2 mm (no- mor 500 - 1200). Jangan kelewat kecil karena pada proses pengèrè- kan bakal bikin sakit di tangan dan jari (apalagi kalau sudah ada beban), dan jadi ‘mbandul serta ‘ndut-‘ndu- tan waktu dipakai ‘ngèrèk antena ke atas;  jangan pula kelewat gedé kare- na kalau sudah dipakai ± setahun a- kan jadi kaku, kalau mesti nurunin atau mengubah ketinggian antena jadi agak susah diulurnya di samping tambah susah juga buat ‘ngebuka ikatan/simpul dan ‘ngi- ketnya kembali). Cara mengikatkan ke isolator sama dengan cara ngikat pada mata kail, dengan membuat paling tidak 1 + ½ (jadi bukan satu setengah) kali simpul mati (tanya rekan pramuka atau hobbyist mancing yang ini 'gimana pula macam- nya), yang akan saling mengunci jika ditarik atau diregang, sehingga ti- dak akan ‘ngegrosot (melorot) lepas karena licin.

SPACER - Kalau diperlukan spacer yang pendek ukurannya (± 20 cm) untuk membuat open wire feeder, bisa dipakai potongan acrylic sheet seperti pada pembuatan isolator di atas.

Lagian jarang open wire untuk feeder line dibuat dengan jarak antarelemen lebih dari 15 cm, 7,5 – 10 cm sudah cukup memadai – lihat kembali rumus perhitungan bikin open wire feeder di tulisan beberapa waktu lewat.

Bisa juga dipakai belahan bambu, seperti yang dilakukan para panda- hoeloe sebelum ditemukan pipa PVC dan batang acrylic. Tentunya bambu juga mesti ditreat dulu untuk ‘nutup pori-porinya, misal dengan dipernis, dicat atau ditreat dengan epoxy resin (seperti pada pembuatan Boom pada tulisan di edisi lewat); angkatan pendahoeloe kita doeloe mau bersusah-susah merendam po- tongan bambu tersebut dalam laru- tan paraffin, lilin atau malam batik mendidih barang 20 - 30 menit! Potongan kayu (apalagi bangsanya jati, kamper dan nyatoh) rasanya kurang cocok untuk spacer karena terlalu berat, kecuali kalau mau dipakai sekadar untuk eksperimen se- lama 2 - 3 bulanan, bisa dicari kayu yang entengan macam kayu ramin, meranti, surèn, jinjing, sengon dan randu. Cari yang bener-bener sudah kering, lantas ditreat dengan 2 - 3 sapuan kuas varnish (tunggu kering dulu sebelum penguasan berikut- nya) atau di UV curing seperlunya. BTW, seperti disebut di awal tuli- san wire antenna yang lain adalah loop antenna dan salah satu variantnya adalah (Cubical) Quad antenna.

Walau pun sempat disenggol ‘dikit di edisi lalu, tidak ada salahnya untuk diu- lang lagi di sini, khusus dari sisi pandang komponen yang diperlu- kan dalam perakitannya.

Tapi… di edisi depan ya? :) CU ES 73! [73]

Ngobrol Ngalor Ngidul 0309

Ngobrol Ngalor Ngidul 0309  

Tubing — Boom

Ada pertanyaan? Sila kirim ke orari-news@yahoogroups.com atau konsultasi langsung ke unclebam@indosat.net.id

Sekadar mengingatkan kembali, di akhir clotèhan tentang berjenis kawat/kabel yang bisa dan biasa dipaké untuk ‘ngebahan antena di edisi lalu penulis janji di edisi ini mo’ ganti topik: berjenis tubing (pipa) yang dipaké buat ‘ngebahan berjenis antena Yagi, spreader pada antena Quad atau untuk bikin antena vertikal, trus ‘ntar dilanjutin dengan ber- bagai bahan yang bisa dipaké sebagai pengganti kalo’
misalnya syusyah mencari tubing seperti yang kita mau ….

Untuk boom antena Yagi band HF biasa- nya dipakai pipa aluminium diameter 1,25-2”,   tapi di samping susah ‘nyari pipa berdinding tebal (sehingga cukup layak kebeba-  nan 4 - 5 elemen misalnya), kalaupun ada harganya selangit! Sebagai gantinya, homebrewers menggunakan batang bambu yang harganya relatif lebih terjangkau dan mudah dicari di mana-mana.  

Salah satu pilihan adalah bambu yang biasa dipakai untuk tiang bendera, karena jenis  ini daging batangnya tebal, lubangnya relatif kecil (< 1 cm) dibanding tebal daging dan diameternya, serta ruasnya panjang-panjang.

Cari sisa-sisa atau bekas perayaan 17 Agustusan tahun lalu, jadi sudah benar-benar kering dan biasanya sudah dicat merah-putih; jadi paling tidak pori-porinya sudah tertutup sehingga sudah ada sedikit perlin- dungan terhadap cuaca agar tidak cepat keropos. Biasanya bisa dida- pat dengan ukuran panjang sekitar 4 meter. Untuk dijadikan boom se- panjang 7 meteran yang cukup kokoh (misalnya untuk 3-elements Yagi 20 m), 2 batang bambu beginian (cari yang OD (outer diameternya) ±4   cm pada pangkalnya) bisa disambung bertolak belakang (pangkal beradu pangkal atau back-to-back). Untuk menyambungnya, masing- masing pangkal bambu (satu-dua ruas paling bawah atau sekitar 70 cm) di kowak separuh pakai gergaji (dan pahat) trus disambung saling overlap dengan menangkupkan ke- dua bekas kowakan tersebut, lantas ikat kuat-kuat dengan senar pancing atau kawat jemuran seperti gambar 1 di bawah:  


Karena bambunya sendiri dari sononya sudah mengecil di bagian ujung, kalo’ udah jadi akan didapatkan sebatang boom yang tapered juga: besar di tengah – di tempat sambungan, yang nantinya juga tempat untuk mounting ke mast), dan menge- cil di kedua ujungnya. Kalau dapat- nya bambu yang baru dipotong dari barongannya (jadi masih ijo), ratakan bagian ruas, bekas mata, tunas ran- ting dan sebagainya dengan golok, dan bersihkan bagian-bagian yang berrambut (lugut atau miang) karena bagian-bagian ini biasanya kalis air sehingga bakal ‘nggak nèmpèl kalau nantinya dicat atau diproses lebih lanjut. Jemur batang bambu yang sudah bersih itu selama beberapa hari, usahakan penjemurannya tidak langsung kena sinar matahari (supa- ya ‘nggak mlengkung atau retak). Treatment untuk menutup pori-pori bambu mesti dikerjakan pada saat  ngebahan ini. Di desa-desa di Jawa, doeloe treatment dilakukan dengan merendam bambu di kolam berlumpur atau selokan selama paling tidak 1 bulan sebelum bambu dipakai. Dengan begini diharapkan pori-porinya bisa ketutup lumpur dan benih serangga bubuk (tothor) yang bakal ‘ngerikiti batang bambu dari dalam bisa dibuat ‘ngepèr duluan untuk mau singgah. Sesudah proses potong-memotong, sebelum dirakit bambu dipoles dulu dengan ± 3 la- pis kapur tembok, residu atau tèr.  

Cara lain yang terbukti memuaskan hasilnya ialah dengan memberikan  epoxy resin atau fibre glass treatment, 
yang dilakukan dengan melilit bambu dengan fibre glass tape, yang berupa kasa (matte) fibre yang dari pabrik sudah disiapkan dalam bentuk pitaselebar 7,5 cm (3") dengan adhesive (bahan perekat) di salah satu permukaannya—mirip lakban/plester, cuma kasanya berwarna bening. Se- benarnya dibuat pabrik untuk menambal retakan-retakan pada duct atau talang beton, tangki atau atap fibre glass yang bocor, tapi ‘nggak ada salahnya kalau dialihgunakan juga untuk lapisi boom atau spreader bambu kita. ‘Ngerjainnya tinggal dililitkan saja melintir sepanjang bambu, kemudian dikuaskan paling tidak 2x jalan campuran resin dan hardenernya. Di Jakarta, awal tahun 2000an salah satu toko yang jual tape macam ini adalah toko Mahkota - Raja Isolasi di bekas bongkaran Pasar Kenari (sebelah depan), tapi akhir-akhir ini kaya’nya bisa juga didapat di toko-toko bahan bangunan.  


Kalau mau sekalian mendapatkan perlindungan ekstra dari radiasi sinar UV (Ultra   Violet) yang bisa membuatnya jadi  getas (brittle), sebelum dikèrèk ke posisinya kuaskan lagi cat atau politur jenis outdoor (dengan bahan dasar Polyurethane macam Ultran Outdoor, Pinoguard dan lainnya) yang memang dibuat untuk menangkal pengaruh sinar UV pada lijstplank, pergola dan pagar kayu.

Lha kalau sudah di treat macam ‘gi- ni, kaya’nya boom (dan spreader) dari bambu ini  bakal tahan dipakai seu- mur-umur buat eksperimen (yang dibongkar pasang tiap 6-8 bulan) atau pun instalasi permanen, sam- pai IAR habis masa-lakunya dan di- perpanjang beberapa kali!

Nah, kita akhiri di sini dulu ‘ngob- rol-‘ngalor-‘ngidul kali ini, di edisi depan kita  lanjutin lagi ‘ngobrolin tentang substitusi buat komponen- komponen pada proses perakitan antena yang lain.

So, until then, just stay tuned!

[73]

Ngobrol Ngalor Ngidul 0308

Ngobrol Ngalor Ngidul 0308  

Tubing

Sekadar mengingatkan kembali, di ak- hir clotèhan tentang berjenis kawat/kabel yang bisa dan biasa dipaké untuk ‘ngebahan antena di edisi lalu penulis janji di edisi ini mo’ ganti topik: berjenis tubing (pipa) yang dipaké buat ‘ngebahan berjenis antena Yagi, spreader pada antena Quad atau untuk bikin antena vertikal, trus ‘ntar dilanjutin dengan ber- bagai bahan yang bisa dipaké sebagai pengganti kalo’ misalnya syusyah mencari tubing seperti yang kita mau ….

Ngomongin tubing buat urusan perantenaan, khususnya un- tuk elemen antena, tentunya yang dimaksud adalah tubing dari bahan aluminium. Untuk berbagai aplikasi—yang bukan untuk elemen antena—bisa dipakai pipa dari ba- han dan jenis lain, misalnya pipa conduit (pipa yang dahulu—sebelum jaman PVC sekarang ini—dipakai untuk melindungi perkabelan pada instalasi listrik), pipa galvanized, pipa stainless steel dan sebagainya. Nah, kalo’ bicara tentang tubing alumuni- um, dengan menyesal penulis mesti bilang: kecuali yang
dipesan khusus ke pabrik (baik lokal maupun dari luar/impor), tubing aluminium yang ada di pasaran sini kaya’nya lebih pantas dipaké buat ‘ngebahan rak jemuran ketimbang buat ‘ngebikin antena. —Lho, kok?

Kalo’ kita mengamati literatur luar pager (apa itu dari sumber di Am- rik, Jepun atau  kawasan lain) maka semua desain antena (baik untuk elemen mau pun komponen lain macam boom atau spreader) akan mensyaratkan suatu standar terten- tu, yaitu tubing type T-6061. Jenis ini dipakai pula di lingkungan in- dustri penerbangan, misalnya untuk kerangka pesawat ultra-light, gantole dan sebagainya (lha yang ada disini, paling juga baru memenuhi persyaratan pemakaian di lingkungan industri karoseri, misalnya dipakai buat pegangan tangan bagi penum- pang yang berdiri bergelantungan di bis Metro Mini dan Kopaja). Di samping diameter dan penampang yang dibuat sesuai standard (kalo’ dibilang bulat ya betul-betul bulat, bukan jadi cenderung lonjong), karakteristik yang paling menonjol dari tubing jenis T-6061 adalah ketebalan dindingnya, yang persis se- tebal 1/8”. Di samping faktor ke- kuatan, ketebalan yang standar ini akan terasa sekali manfaatnya kalo’ kita mesti ‘mbung-menyambung tu- bing secara teleskopik, di mana se- lonjor tubing disambung dengan cara dimasukkan (atau dimasuki) tubing lain yang diameternya lebih besar (atau lebih kecil), seperti yang lazim dilakukan pada waktu bikin elemen antena Yagi. Sesuai standar- nya, tubing aluminium dibuat dengan diameter yang berselisih 1/8”, misalnya dari 3/8”, 1/2”, 5/8”, 3/4”,1”, 11/8” dan seterusnya sehingga pas banget kalo’ dibuat telescoping (begitu ‘ngepasnya –snugly fit– sehingga di beberapa literatur dianjurkan untuk membelah (slot) ujung pipa yang lebih besar dengan jig saw atau gergaji besi biasa sepanjang 10 – 15 cm, supaya mudah memasuk- kan pipa yang kecilan, yang lantas diklèm paké hose-clamp supaya ter- sambung dengan erat, baik secara fisik mau pun elektris). Dengan demikian bisa didapatkan elemen antena yang tapered (mengecil secara berjenjang ke arah ujung), yang di samping enak dilihat mata juga mengurangi berat dan wind load-nya.

Nah, kalo’ udah tau kendala yang beginian dan masih mau juga eksperimen dengan bahan yang ada di sini, ya mesti “nrimo” konsekuensi elemen antena-nya cepet melengkung (atau jadi pèplèh) sesudah 1–2 bulan terpasang di atas sono. Karena tubing yang dipakai kebanyakan dindingnya tipis, untuk bisa tele-scoping penyambungannya mesti di- ganjel (diseam) dengan berbagai cara, misalnya dengan melapisi bagian yang lebih kecil dengan aluminium foil (atau sheet) sehingga mencapai ketebalan yang mendekati 1/8” tadi sehingga sambungan bisa snugly fit juga (ingat, sambungan yang ‘nggak sempurna bisa ‘mbawa dampak macam-macam sama kinerja antena misalnya jadi noisy, SWR yang ‘ng- gak stabil dan sebagainya.

waktu masih seneng eksperimen yagi HF doeloe, penulis bisa ‘ndapetin tubing aluminium yang bagus dari kang Agus, YB1CS di Bandung, yang memang pu- nya pabrik antena kualitas ekspor. Kali lain, teman pilot macam YBØBII, YBØBEZ dan lainnya suka berbaik hati ‘bawain dari 9V1 land, apalagi kalo’ kebetulan ‘narik pesawat cargo.

Spreader
Pemakaian lain dari aluminium tu- bing adalah sebagai spreader (peren- tang) untuk merentang elemen pa- da rancangan antena Cubical Quad. Kalo’ mau merujuk ke produk biki- nan pabrik, adalah pabrik HyGain (sekarang merged jadi Telrex-HyGain) yang menggunakan spreader pipa aluminium. Untuk Cubical Quad dengan cakupan band 20 m diper- lukan spreader sepanjang 4 meter & supaya spreader ini ‘nggak ikutan re- sonan pada salah satu frekuensi (baik asli mau pun harmonic) maka kepanjangan yang 4 meter tersebut dipotong menjadi 2 atau 3 bagian, yang lantas disambung utuh kem- bali paké non-conductive material (ma- cam bakelite, teflon dan acrylic). Para homebrewers yang juga mengkha- watirkan ihwal ikutan resonan ini, biasanya lantas memakai tubing aluminium sepanjang 1,5 – 2 meter, kemudian disambung dengan non-nductive material macam bambu, potongan kayu yang bener-bener kering dan sudah ditreat seperlunya untuk menutup pori-porinya, misalnya dengan melapisinya dengan pernis, di- celup dalam parafine atau malam ba- tik yang mendidih. Biasanya cara ini dipakai untuk bikin spreader Cubical Quad yang bekerja dengan cakupan band 15 m ke atas (di band 20 m bagian bambu atau kayunya bakal terlalu panjang, jadi takut cepet
atau mudah patah).


Cara lain adalah membuat keseluru- han struktur spreader dari fibre-glass rod (batang pejal), atau batangan khusus (custom made) dari fibre glass; seperti yang sudah sejak tahun 80an dilakukan oleh beberapa produsen antena Cubical Quad (seperti Gem Quad). Di sini masih susah mencari fibre glass rod ini dan misalnya dapat (misalnya sebagai vaulting pole atau galah untuk olah raga loncat galah) rasanya sayang kalo’ mo’ dipotong- potong buat ‘ngebahan spreader ka- rena disamping susah ‘ndapetinnya harganya pun cukup mahal. Solusi yang lebih murah adalah ‘ngebahan spreader ini dari bambu yang biasa dipakai untuk joran pancing atau untuk bikin lembing (buat olah raga lempar lembing), yang lantas ditreat dengan fibre glass coating atau epoxy resin. Bahasan rinci tentang proses treatment ini bisa dilihat di paragraf tentang Boom yang akan tampil di edisi mendatang.

Nah, kita akhiri di sini dulu ‘ngobrol‘ngalor‘ngidul kali ini, tunggulah edisi mendatang mengenai Boom.

So, until then, just stay tuned! CU ES 73(!)
 

Ngobrol Ngalor Ngidul 0307

Ngobrol Ngalor Ngidul 0307  

Bahan Antena

Sekadar mengingatkan kembali, di akhir edisi lalu penulis janji mo’ ‘ngobrolin tentang bahan yang bisa dan biasa dipaké sebagai bahan untuk merakit antena, karena niatan awal serial tulisan ini memang untuk encourage, stimulate dan motivating (ya, kira-kira aja = mem- buat berani, mendorong, dan me- rangsang) rekan amatir untuk mau merakit antenanya sendiri, syukur- syukur dengan bahan yang mudah didapat dengan harga terjangkau di lingkungan sekitarnya.

Tergantung situasi dan kondisi, mi- salnya yang menyangkut isi kocek, antena yang mau  dibuat, berapa la- ma antena mau dipakai, bahan apa yang kebetulan ada, kemudahan mencari bahan pengganti dan seba- gainya. Pada dasarnya, semua jenis kawat atau kabel (termasuk kawat jemuran, kawat las, kawat pager berduri, kawat per/pegas tempat tidur spring bed dan lainnya) bisa di- pakai untuk membuat antena, walau tentu kinerja, efisiensi, daya tahan atau umurnya akan berbeda.

Supaya tidak rancu —kecuali disebut lain— di sepanjang tulisan ini dipakai istilah  kawat sebagai terjemahan ari kata wire, materi berpe- nampang silindris; ditempa, dipintal atau dianyam dari tembaga (copper) murni atau dengan campuran lain, diperdagangkan dalam keadaan po- los (tanpa salut atau pelapis). Kabel dipakai sebagai terjemahan kata cable, yaitu kawat yang diperdagang- kan dalam bentuk bersalut dari bahan vynil, PVC, teflon lainnya. Dari berjenis kawat dan kabel yang ada di pasaran, berikut adalah jenis- jenis yang lazim dipakai:

Kawat tembaga tunggal (solid) bersalut enamel atau email
Yang dipakai untuk menggulung dinamo atau motor listrik. Di tukang loak pun biasanya disebut kawat dinamo, karena memang di- pulung dari dinamo atau motor yang sudah terbakar atau kortsluit, short circuit. Untuk band HF, biasanya dicari yang Ø 1,2 sampai 3 mm. Jangan lupa mengampelas sampé kinclong bagian yang akan disolder (pada titik umpan atau ujung yang nantinya diikatkan ke isolator), un- tuk mencegah
kurang 'nempelnya solderan. Kawat jenis ini umumnya kaku dan mudah putus kalau tegang, terutama pada titik-titik yang pernah tertekuk/terpilin keplintir.

Kawat tembaga tunggal (solid) atau serabut (stranded) tanpa salut/isolasi
Dengan berbagai ukuran/diameter. Relatif mahal karena harus dibeli baru di toko alat-alat listrik — yang menjualnya sebagai kawat BC (bare copper wire). Kawat tunggal Ø 2-3 mm doeloe dipakai sebagai kabel tilpon (yang ‘ngegantung antara tiang telepon di pinggir jalan) sedangkan kawat serabut yang uku- rannya agak gedéan (0,8 – 1,2 cm) justru dikenal sebagai kawat aarde/ ground. Di samping kaku (sehingga agak susah ‘ngerjainnya), kaya’nya juga kurang sesuai dipakai di kota besar atau dekat pantai karena mudah terpengaruh polusi, salinasi (kena uap air garam dari laut) dan teroksidasi yang akan mempenga- ruhi kekuatan dan elastisitasnya; mengandung resiko kalau putus dan jatuh menimpa kawat listrik di depan rumah (di beberapa tempat belum diganti dengan kabel twisted pair bersalut); bikin mati lampu satu RW atau Kelurahan!

Ada jenis yang sepertinya dibuat khusus untuk kawat antena, terbuat dari tembaga campur atau sepuhan nickeline dengan warna yang putih mengkilap. Jenis ini lebih tahan ter- hadap oksidasi, pengaruh cuaca dan polusi, dan cukup fleksibel sehing- ga tidak mudah putus kalau kete- kuk-tekuk, tapi harganya selangit dan dalam pemakaiannya tetap ha- rus memperhitungkan resiko 'nibanin kawat listrik di atas.

Kabel sistim kelistrikan mobil
Berupa kawat serabut (stranded) di- lapis vynil sebagai isolasi, dipasaran dikenal sebagai kabel NYF. Biasa- nya dipakai yang Ø 3 - 5 mm (ter- masuk isolasinya). Kualitasnya me- mang bagus, harusnya sih cukup ta- han cuaca, tapi agak berat sehingga susah untuk direntang pada posisi horizontal tanpa jadi kelewat ‘nge- lendong (sagging) di tengah-tengah.

Dari pada ‘ngeglèyot di tengah, mending sekalian saja tiangnya dita- ruh di tengah,  sekalian untuk can- tholan isolator tengah (center insula- tor) yang merupakan titik umpan/ feed point dan bagian yang paling berat kebebanan karena sekalian harus ‘nyangga bobot feeder linenya. Kalau sudah begini maka jadilah antena Inverted Vee, yang ujungnya ‘nggak perlu diikat ke tiang, cukup dicantholin saja ke tritisan atau di-
ikat di pohon sudut pekarangan!

Harus dibeli baru di toko onderdil mobil (di situ dibilangnya kabel aki) atau di toko  yang berjualan barang- barang kelistrikan, karena jarang di- temui yang 'nyasar ke tukang loak (kalau pun ada barangkali kondisi- nya sudah kucel banget dan tidak layak pasang lagi). Cari merek be- ken, paling tidak mencantumkan kode standar SII/ LMK di sepan- jang lapisan isolasinya. Perhatikan lapisan vynilnya cukup ketat menyalut kawat (conductor), karena kalau longgar akan gampang kemasukan air yang membuat kawatnya jadi cepat teroksidasi (trus berubah warna dari warna tembaga yang kemerahan jadi ijo atawa item, gampang prothol, jadi getas dan susah disolder).

Kabel NYAF Ø 1,5 – 2,5 mm
Kaya’nya pas untuk dipakai eksperimen; bisa juga untuk instalasi per- manen asal power output ‘nggak kelewat gedé, tarohlah sekitar 200 watt. Kabel tembaga serabut ini ba- nyak dipakai sebagai kawat penyam bung (hook-up atau jumpering cable) rangkaian peralatan elektrikal arus kuat tegangan tinggi macam Switch- gear, panel kontrol dan sebagainya. Cari yang merknya cukup beken, memenuhi standar SII/LMK dan secara kasat mata bisa dilihat pem- buatan dan kualitasnya cukup baik: lemas, serabutnya padat, isolasinya dari vynil kualitas baik dan rapat membungkus konduktor sehingga ‘nggak gampang molor dan kemasukan air. Jangan pula salah beli, ingat falsafah: teliti sebelum membeli, yang isolasi plastiknya begitu tebel, sampé lebih tebel dari kon- duktornya sendiri (lha beli kawat apa plastik? Yang beginian mending buat kawat jemuran aja).

Kabel speaker Monster
Selama ± 10 tahun penulis pernah memakai kabel speaker Monster yang bisa didapat di toko audio. Agak mahal tapi kualitasnya bagus dan resistansinya kecil sekali. Terdiri dari 2 konduktor serabut yang disalut isolasi vynil bening transpa- ran, dengan masing-masing kon- duktor dianyam dari paling tidak 25 helai kawat tembaga (kemerahan) dan tembaga campur nickeline (war- na putih), Ø 2 - 8 mm, anyaman sangat amat rapat dan padat. Kabel Monster ini lemas dan lentur, tapi sangat kuat dan tidak ada gejala molor atau berubah warna karena oksidasi sesudah dipakai sekian ta- hun untuk eksperimen macam-macam antena dengan power output sekitar 80 - 100 Watt. Cari yang asli buatan Perancis atau Jepang, dengan tulisan MONSTER yang jelas tertera pada lapisan/isolasi vynilnya. Di Jakarta (Glodok/Harco, Mang- ga Dua) dan Surabaya (pasar Gen- teng) boleh dibeli meteran kok, beli secukupnya saja karena dari sono- nya memang mahal. Jangan salah beli, karena di toko-toko yang jual barang ginian sering dijumpai kabel Monster aspal dengan kualitas sea- danya: serabut hanya terdiri dari 8 - 10 helai kawat, anyamannya jarang, isolasi plastik transparan berwarna kehijauan, isolasinya renggang membungkus konduktornya sehingga gampang molor kalau ditarik dan mudah kemasukan air hujan atawa embun sehingga cepat terkorosi.

Kabel twisted pair
Lima tahun belakangan banyak juga yang memanfaatkan sisa-sisa kabel twisted pair, yang  dipakai PLN untuk nyambung dari tiang terdekat ke wuwungan rumah pelanggan. Karena terbuat dari aluminium, kawat jenis ini ‘nggak bisa disloder, tapi banyak akal dengan memakai berje- nis klèm atau kabel terminal yang a- da dipasaran (baru mau pun loakan) untuk urusan sambung-menyam- bung ini. Kabel macam ini memang agak berat (yang berat sih isolasi- nya), walau pun masih entengan ketimbang kawat/kabel NYF/ NYAF dengan ukuran yang sama).

Untuk antena yang dipakai untuk waktu singkat (sekadar eksperimen, bekerja  portable/field-day), bisa saja memakai kabel listrik rumahan (ke- nur atau zip cord), kabel speaker bia- sa (merah+item), konduktor kabel telpon jenis multi konduktor (untuk instalasi dalam rumah), konduktor kabel data, kabel NGA 2 mm & lain sebagainya; Ini semata-mata un- tuk pemakaian sementara atau saat emergency saja, tidak dianjurkan untuk instalasi permanen.

Kawat bersalut sebagai elemen antena
Di samping fungsi salut vynil sebagai pelindung korosi oleh pengaruh cuaca (kawat yang grèpèsan kena korosi/corroded di samping jadi rapuh dan getas/brittle, resistansi- nya naik, berakibat efisiensi kerja antena akan menurun), barangkali bagi kebanyakan amatir ‘nggak per- nah terpikir bahwa pemakaian kawat serabut bersalut (vynil insulated stranded wire) seperti kabel Monster dan kabel listrik mobil akan membantu mengurangi efek kelelahan metal (metal fatigue) yang terjadi ka- rena bagaimana pun bentangan antena di udara akan selalu bergetar, bergoyang dan berayun diterpa a- ngin. Kelelahan metal menyebab- kan mudah putusnya kawat telan- jang (solid bare wire) dan kawat dina- mo yang banyak dikeluhkan pemakai kawat jenis ini, itu pun cuma gara-gara kesamber layangan putus.

Gejala lebih parah ditemui pada elemen antena Quad, yakni tamba- han beban kawat berupa faktor ke- tegangan (tautness); konstruksi Quad menggunakan spreaders sehingga elemen antena terpasang pada posisi selalu tegang. Bahan vynil, Teflon yang dipakai sebagai isolasi dapat menyebabkan terjadinya capacitive effect yang menyebabkan diperlukan- nya pemendekan ukuran yang dihitung berdasarkan rumus. Pengalaman John Kennedy, W5DJ duo-band Cubical Quadnya lari dari 14,150 ke 13,800 MHz serta 29,200 ke 28,600 MHz waktu memakai kawat bersa- lut vynil yang dipotong menurut rumus. Ini berarti elemen tersebut harus dipendekkan sekitar 2-3 % (tergantung jenis isolasinya) untuk kembali ke design frequency.

Nah, urusan kawat dan kabel kita cukupkan sampé di sini dulu, di edisi depan kita  ganti topik lagi. Walau pun masih tetap urusan nge- bahan antena: kita tengok berjenis tubing (pipa), seperti yang dipaké buat ngebahan berjenis antena Yagi, spreader antena Quad atau untuk bikin antena vertikal. So, until then, just stay tuned!
[73]