Showing posts with label dipole. Show all posts
Showing posts with label dipole. Show all posts

Saturday, 10 December 2011

Broadband Dipole

Broadband Dipole

P e n g a n t a r
Dari waktu ke waktu, rekan-rekan amatir selalu berusaha untuk mendapatkan sebuah Dipole yang cukup lebar bandwidth-nya, yang diharapkan bisa mencakup lebar band yang 400 kc (3.500 – 3.900 MHz) di band 80M itu.

Dengan “merangkap” atau menambahkan elemen yang sama panjang dengan elemen asli yang 1/2λ -- seperti pada rancangan Folded dan Three-wire Dipole -- memang bisa didapatkan ke-lebaran- band yang agak lumayan (sekitar 200-300 kc), tetapi pendekatan ini lantas belum atau tidak dapat memenuhi “maksud hati” mereka yang mengharapkan impedansi +/- 50 ohm di feed point, supaya tetap bisa diumpan dengan kabel coaxial biasa.

Di akhir tahun 60an, rancangan Double Bazooka dilansir ke masyarakat amatir di Amrik, dan pelan-pelan mendapatkan kepopulerannya sebagai rancangan yang bisa memenuhi kriteria broadband dengan impedansi 50 ohm pada feedpointnya seperti yang diharapkan.


D o u b l e B a z o o k a A n t e n n a
Teori-teori yang mendasari rancangan antenna ini pada awalnya dikembangkan di MIT (Michigan Institute of Technology, ITB-nya Amrik) untuk aplikasi pada radar militer di era perang dingin dasawarsa 60-70an, yang kemudian diadaptasikan untuk keperluan amatir oleh C C Whysall, W8TV dengan artikelnya di majalah QST edisi July 1968. Whysall meng-claim Double Bazooka rancangan- nya sebagai antenna band tunggal (monobander) yang sangat efisien, sangat “hening, nyaris tanpa derau” (very quite) dan tidak memerlukan balun pada pemasangannya.

Antenna ini dibuat dari kabel coax RG-58 biasa (BUKAN dari jenis dengan foam dielectric) dengan shield/outer braid yang di split di tengah (pada feedpoint). Pada kedua ujung (sisi luar) coax tersebut inner dan outer conductornya di short, untuk kemudian disambungkan ke open wire yang berfungsi untuk melengkapi atau menggenapkan ukuran total struktur antenna menjadi 1/2λ.

Panjang masing-masing bagian dihitung dengan rumus: L coax = 99/f untuk bagian atau seksi yang dibikin dari coax (untuk selanjutnya dalam tulisan ini disebut “seksi-coax”) dan Lopen wire = {(143- 99)/f} : 2 untuk seksi open wire-nya.

Dengan rumus di atas untuk Double Bazooka dengan center frequency 3.700 Mhz bisa dihitung panjang seksi-coax = 26,75 mtr, dengan panjang open wire sekitar 5-6 mtr per sisi.

Pada pembuatan dan instalasinya yang perlu diingat adalah:
1. Pada masing-masing sisi seksi-coax inner dan outer conductors dari transmission line disambungkan ke outer conductors-nya SAJA. Karenanya dalam pembuatannya inner conductor dari seksi-coax ini TIDAK USAH dipotong atau di split jadi dua seperti pada pembuatan Dipole biasa.
2. Kedua ujung open wire saling dishort. Adjustment pada saat mencari titik resonan dilakukan dengan mengeser-geser titik shorting pada sisi LUAR open wire ini.
3. Open wire BISA diganti dengan TwinLead TV atau kawat biasa. Untuk kokohnya konstruksi paké kawat segedé tapi sepraktis mungkin dari sisi pengerjaan dan handling nya, misalnya dengan kawat dia. 2 mm (AWG # 12)
4. Untuk menghemat lahan, Double Bazooka bisa dibentang sebagai inverted Vee atau inverted U. Pada versi yang belakangan seksi-coax dibentang sebagai sisi horizontal, sedangkan seksi openwire-nya dibiarkan saja ‘ngegantung sebagai sisi-sisi vertikalnya.


Pada pengoperasiannya, inner conductor pada flat top TIDAK ikutan memancarkan (radiate) sinyal. Bagian ini berfungsi sebagai 1/4λ shorted stub yang pada kondisi resonan akan menghasilkan impedansi resistive yang SANGAT TINGGI (very high resistive Z) di feedpoint. Pada frekwensi OFF resonant, reaktansi pada stub akan meng-cancel reaktansi dari struktur Dipole dan sekali gus membuat bandwidthnya jadi melebar.

Dengan SWR 1:1 di 3.700 MHz (kalau ini dianggap sebagai center frequency), maka SWR cuma akan
bergerak naik sampai 1.7:1 pada ujung-ujung band (3.500 dan 3.900 Mz)

BTW, perkembangan zaman melahirkan variant- variant lain dari Double Bazooka ini, dan salah satunya yang perangkum bilang “agak aneh” (karena bentuknya yang ‘nggak simetris) adalah rancangan yang dikembangkan oleh F Witt, AI1H dan dipublikasikan di majalah QST edisi April 1989, seperti tergambar di bawah ini:

Rancangan OM Witt ini lebih “hemat coax” (total length of coax +/- 17 mtr), dan berbeda dengan versi terdahulu, inner dan outer conductors pada seksi-coax yang panjang TIDAK dishort dan dibiarkan terbuka.

Disamping asymetris, yang juga membuat konstruksi versi ini sedikit nylenèh adalah seksi-coax di sayap kiri (pada gambar) terdiri dari dua potong coax yang penyambungannya dilakukan secara transposed atau diplintir: outer potongan pertama disambungkan ke inner potongan kedua dan sebaliknya (!).

Seperti juga rancangan sebelumnya, pada instalasinya rancangan ini bisa dibentang sebagai inverted Vee atau inverted U, TANPA harus mengkhawatirkan perubahan pada pola pancar, take off angle dan properties pancaran lainnya, karena bagian yang benar-benar radiate untuk melempar sinyal (RF) ke angkasa adalah bagian dengan current maxima yang berada pada bagian tengah, dekat dengan feedpoint-nya, sehingga pada versi Inverted Vee maupun U bagian ini akan tetap berada pada posisi tertinggi.

WEATHER PROOFING:
Akhirnya, yang perlu diper- hatikan pada perakitan dan instalasi ke dua versi adalah kenyataan bahwa di feedpoint anda harus “mengupas” salut plastik/vynil dari coax, pertama karena outer braidnya memang harus dipotong dan diberi jarak sekitar 3-7.5 cm satu sama lain, kedua karena penyambungan ke inner dan outer conductors transmission line juga harus dilakukan di situ.

Akibatnya “daerah” feedpoint ini jadi terdadah (exposed) ke udara, sehingga besar kemungkinan air (hujan atau embun) akan meresap masuk ke dalam seksi-coax maupun transmission line-nya. Tempat-tempat lain yang rawan terdadah juga adalah titik sambungan dengan open wire atau single wire (pada kedua versi), serta titik sambung antar-coax pada seksi-coax di sayap kiri (pada versi AI1H). PASTIKAN bahwa titik-titik rawan resapan air ini bisa tertutup RAPAT dengan mengseal-nya paké lem berkwalitas yang dikenal tahan cuaca (weather proof), tahan terpaan sinar ultra violet di udara (UV-resistant) macam lem epoxy (mis.: Araldit, epoxy-steel (yang biasa dipakai untuk ‘nambal sementara kebocoran pada radiator mobil, mis.: Dexton), atau power glue ASLI (mis.: Alteco).

Nah, versi manapun yang anda niatkan mau dirakit, SELAMAT BEREKSPERIMEN ES GL

73, de ybØko/1

Linear Loaded 80M L-Antenna model r-6s

Linear Loaded 80M L-Antenna model r-6s (dengan foot-print yang cuma +/- 7 meteran)

Buat amatir penghuni hunian type RSSSSSS (rumah sangat-sangat-sederhana-sekedar-selonjor-saja) yang masih punya semangat untuk bisa transmit di 80M dengan sangkil dan mangkus (efektip dan efisien), berkhayal naikin antenna jenis horizontal macam doublet, dipole, G5RV, W6JJZ dsb. rasanya bakal out of question, alias lebih baik dilupakan saja. Disamping ketimbang jadi ‘ngenes dan nelongso duluan mikirin sesuatu yang tak mungkin, juga susah untuk tetap mempertahankan ke-sangkil dan mangkus-an antenna macam gitu kalo’ toh mau dipaksakan untuk memperkunthèt (memperkecil) ukuran fisik sampai kurang dari 70-80% ukuran aslinya (itupun berarti masih butuh lahan bebas sekitar 30 meteran untuk ‘ngebentangnya).
So, rasanya lantas cuma jenis antenna vertical-lah yang kemudian layak dipertimbangkan – walaupun kalo’ dipikir-pikir narik atau naikin vertical setinggi 40 meteran juga bukan hal yang gampang – belon lagi mikirin gimana caranya ‘ngebentang sistim radial yang memenuhi persyaratan untuk bisa bekerja dengan sangkil dan mangkus pula (antenna vertical jenis apapun – selama dia dikembangkan dari bentuk asal yang merupakan kelipatan ganjil bilangan 1/4 lambda - baru bisa bekerja sempurna kalo’ dilengkapi dengan sistim radial yang sempurna pula).

Sebenarnya, kalo’ mo’ paké aji-aji “asal bisa mancar”, rancangan Linear Loaded 40M Dipole dengan footprint sekitar 14 meteran yang pernah diwedar di BEON beberapa edisi lewat, yang lantas dibentang sebagai L – Antenna (satu sisi ditegakkan dan sisi lain dibentang horizontal, sehingga dibutuhkan lahan bebas sekitar 7 meteran saja) dan diumpan paké open wire atawa ondo-munyuk sudah cukup memadai, tapi bayangan mesti menyediakan Tuner jenis balanced output biasanya belon pa-apa juga sudah bikin ciut nyali amatir yang kurang suka berhasta karya …….

Dengan merujuk pada prinsip kerja antenna L dan mempertimbangkan pula segi-segi positip rancangan ini, di tulisan ini penulis coba mengaplikasikan kiat Linear Loading model lain untuk mereka-reka sebuah vertical yang rasanya masih bisa dibikin, dirakit dan dinaikin oleh rata-rata amatir sini.

80M Linear Loaded L-Antenna model R-6S
Amati dulu Gambar 1 untuk mengembalikan ingatan kita akan bentuk dasar sebuah L-Antenna, lantas bayangkan gimana caranya memperpendek ukuran yang 2x 20 meteran itu ke ukuran yang masih mudah ketanganan, seperti disebut di awal tulisan ini.

Nah, kalo’ sudah bisa ‘ngebayangin gimana susahnya naikin L-Antenna dengan sisi tegak yang sekitar 20 meteran itu, mari kita tengok Gambar 2, yang memberikan idée gimana caranya memperpendek masing- masing sisi elemen itu jadi sekitar 7-8 meteran saja.

Pada gambar tersebut digambarkan elemen yang dibuat dari tubing aluminium diameter 1/2, 3/4, 7/8 sampai
1 inch, ya sekedar buat mempermudah cara naikinnya saja, karena bertambah besar diameter element akan
lebih mudah pula untuk membuatnya self-standing alias bisa berdiri sendiri (walaupun mungkin masih ada yang merasa perlu untuk ‘ngebentangnya paké guy-wires). Untuk memangkas pembiayaan, TIDAK ada larangan untuk membuat antenna ini dengan konstruksi ALL cable, tentunya dengan mencari kabel yang segedé dan sepraktis mungkin untuk mempermudah proses perakitan. Tapi, dari awal mesti disadari bahwa konstruksi all cable akan membawa konsekwensi antenna mesti diGANTUNG, karena ‘nggak kebayang gimana caranya membuat struktur antenna setinggi 7 meteran itu bisa berdiri self-standing, kan …..

(ybØko doeloe paké kabel speaker MONSTER diameter 2x 5mm untuk ‘ngeksperimen rancangan Linear
Loaded ini, yang lantas digantung di tower dengan feedpoint sekitar 5 meteran dari tanah).


Bahan-bahan:
Item 1 10 btg Aluminium tubing, Ø minimum 1/2” panjang @ 4 mtr.
Item 2 2 btg Aluminium tubing dengan diameter sekitar 1/8” lebih besar dari item 1, karena dibuat untuk bisa telescoping dengan item 1 (mis.: 1” kalau untuk item 1 dipakai tubing 7/8”). Panjang juga @ 4 mtr.
Item 3 4 btg klèm untuk mounting/dudukan elemen, bisa dibuat dari kayu rèng, papan 1-2 cm, acrylic atau fiberglass sheet.
Item 4 8 utas jumpering cable, seyogyanya dari kawat serabut (stranded wire) Ø 2mm (untuk men- jumper antar elemen).
Item 6 secukupnya Peralatan instalasi macam tiang besi (kalo’ ada), klèm tembok, fisher, sekrup dsb.

Perhatikan gambar elemen sisi tegak pada Gambar 2 di atas. Feed point ada pada tubing paling kiri, yang berturut-turut dijumper ke tubing-tubing berikutnya (perhatikan posisi titik-titik sambungan), dan berakhir di tubing yang di tengah. Jarak antara masing-masing tubing +/- 7.5 cm., sehingga keseluruhan struktur antenna ini lebarnya tidak lebih dari 30-45 cm.

Tubing tengah yang di ujung (yang di gambar terlihat mencuat keatas) dibuat untuk bisa digeser keluar masuk tubing di pangkal pada waktu proses penalaan, untuk mendapatkan ukuran panjang yang pas, yang resonant di frekwensi-kerja yang dikehendaki.
Perangkaian sisi horizontal persis mengikuti proses perakitan sisi tegak tersebut diatas.

Penalaan:
Terserah imajinasi anda ‘gimana caranya naikin L-Antenna anda (mis.: dengan di klèm di pager tembok pemisah antar kapling, atau di klèm di lijstplank pada tritisan rumah), tapi pada tahap penalaan usahakan
letak feedpoint ‘nggak lebih dari sekitar 2-3 meteran dari permukaan tanah (ya supaya gampang kalo’ mesti
‘ngapa-2in karena masih bisa kegayuk, walaupun kalo’ perlu sambil sedkit jinjit).

Baik pada elemen tegak maupun horizontal, posisikan tubing ditengah (yang paling ujung) ditengah-tengah tubing pangkal.
Penalaan dilakukan dengan menarik keluar atau mendorong masuk tubing tengah yang di ujung tersebut, dan dilakukan HANYA pada elemen tegak. Kalo’ dengan proses ini belum didapatkan ukuran resonant yang pas (penunjukan SWR minimum pada design frequency), baru proses yang sama dilakukan pada elemen horizontal.
Lakukan proses penalaan ini dengan tabah dan sabar, karena disamping bandwitdh antenna ini cukup sempit, juga tiap saat anda akan menjumpai interaksi (saling berreaksi) antar-kedua-elemen atas apapun yang ada lakukan pada salah satu sisi elemen yang lain.

Jika sudah didapatkan penunjukan SWR minimum (penulis ‘nggak berani ‘njamin SWR 1:1, karena banyak faktor eksternal yang bakal mempengaruhi sèt-sètan dan kinerja antenna anda), baru anda kèrèk atau klèm antenna pada posisi final yang seyogyanya sudah disiapkan dari awal (idealnya sih kalo’ feedpoint bisa berada di ketinggian paling ‘nggak 5-6 mtr dari permukaan tanah).
Mungkin begitu diumpani sinyal akan ada sedikit pergeseran frekwensi resonan atau ke-naik-turun-an penunjukan SWR, tapi biasanya masih masuk dalam jangkauan yang bisa ditolerir (mis.: frekwensi ‘nggèsèr sekitar 40-50 kc, atau SWR naik ‘dikit, tapi masih dibawah 2:1).

Kinerja yang diharapkan:
Secara elektrik (electrically) panjang masing-masing sisi elemen antenna ini adalah 1/4wl, dan dengan pendekatan linear-loading tsb. diharapkan kinerja-nya ‘nggak akan jauh-jauh amat selisihnya ketimbang atau
dibandingkan dengan antenna vertical yang full-size punya.

Kelebihan rancangan L-antenna ketimbang antenna vertical 1/4 lambda biasa adalah pada kenyataan dia bisa bekerja dual-polarization (vertical dan horizontal), dan dengan posisi feedpoint yang off-ground dia TIDAK memerlukan radial system (yang instalasinya toh akan memakan tempat) untuk bisa bekerja sempurna.
Walaupun ukuran-nya cuma jadi sekitar 1/10 lambda, dengan aperture (bidang tangkap) yang lebar (sekitar
0.40 x 4 mtr = 1.6 m2, ketimbang aperture pada antenna vertical biasa - taruhlah yang dibuat dari tubing 2” - yang sekitar 1 m2) diharapkan receivingnya juga lebih baik. Disamping itu, karena off-ground dia juga tidak bakal se noisy vertical antenna biasa …….

Ngobrol Ngalor Ngidul 0705

Ngobrol Ngalor Ngidul 0705

Dual Band (80-40m) no-tuner shortened Dipole


kalo’ ada pertanyaan sila kirim lewat Ja-Um: buletin@orari.net MILIST: orari_news@yahoo.groups.com
JaPri: unclebam@gmail.com


Salah satu obsesi penulis adalah mengembangkan rancangan antena yang bisa  dirakit  sendiri  oleh  mereka yang ‘pingin kerja di low-band HF (80-40m), tetapi terkendala oleh keterbatasan la- han. Antena “impian” ini harus memenuhi design criteria sebagai berikut:

1. Bentangan tidak lebih dari 2 x 10 mtr.;
2. Cukup  broadband  sehingga  bisa  di- paké TANPA ATU di  80-40m;
3. Cukup  efisien  di  band  80m  dimana panjang total antena < 1/4λ;
4. Bahannya mudah didapat dengan har- ga yang terjangkau;
5. Pembuatannya tidak merepotkan mereka dengan kemampuan dan pera- latan berhasta karya yang serba “pas- pasan”.

Dari pengamatan selama 3 tahunan me- makai rig dual-bander (80-40m) TTE T-17 besutan  OM  Supardi,  YB3DD  -  penulis brani menyimpulkan bahwa banyak peng- guna rig ini tidak bisa meng-optimal-kan kinerjanya (terutama di 80m) karena ketiadaan antena yang cukup efisien un- tuk   “mendongkrak”   pancaran   dengan output yang +/- 50 watt itu.

Antena   Vertikal,   kendati   footprint-nya kecil (= hemat lahan) bukan merupakan solusi, karena memerlukan Grounding System yang cukup ekstensip untuk bisa berkinerja optimum — dan ini berarti kem- bali  ke ihwal yang berkaitan dengan lua- san lahan yang cukup untuk menggelar sistim pertanahan tersebut. Lagi pula antena vertikal take-off angle-nya rendah (bagus untuk DX-ing), yang justru kurang menguntungkan bagi rekans yang  mem- butuhkan antena untuk dipakai sehari- hari dengan area cakupan dari Sabang sampé Merauke saja.

Memang ada rancangan trap Dipole (dengan SDL/Spiral Delay Line trap ran- cangan Lattin, W4JRW yang juga dipro- duksi di bengkel YB3DD) atau Loaded Dipole besutan OM Alriyanto YBØFH (yang sudah pernah diulas di BeON), tetapi kembali ini akan menambahkan kerepot- an bagi mereka yang berkantong cekak (kalo’ mesti beli) ato yang berkemam- puan berhasta karya yang tibang pas (kalo’ mesti bikin sendiri, seperti disebut di butir 5 di atas). Kalo’ ‘mbikinnya asal- asalan, bagaimanapun trap dan loading coils akan introducing losses yang dapat mengurangi efisiensinya.

“The  Mistery Antenna” rancangan W5GI yang versi sini-nya sempat penulis coba populerkan sebenarnya nyaris memenuhi kriteria di atas, tetapi bentangan yang 2 x 15 mtr dan kesulitan mendapatkan kabel
TV untuk matching  stub-nya  cukup  mem- buat keder rekans untuk menjajalnya, walo pun kendala ini bisa diatasi dengan mene- kuk bagian ujung yang 5 mtr/sisi itu ke bawah, dan mengganti kabel TV-nya de- ngan open wire buatan sendiri.

Merujuk design criteria di atas, berikut di- wedar rancangan yang penulis kembang- kan dari rancangan klasik Fan Dipole (ato Antena  Kumis  Kucing,  kata  orang  sini), yang aslinya merupakan 2 buah (ato lebih) Dipole yang diumpan jadi satu di feedpoint- nya (lihat Gambar 1).


Untuk     memendekkan     masing-masing Dipole  supaya  bisa  “masuk”  ke  design criteria  butir  pertama  dipakai  dua  kiat pemendekan antena yang berbeda, yaitu dengan   menekuk   (to   bend)   masing- masing ujung sayap ke arah dalam (untuk mendapatkan   sebuah   bent   Dipole   di  40m, Gambar 2), 


dan dengan memakai Linear Loading — yang merupakan kiat pemendekan antena favorit penulis — un- tuk elemen di band 80m (Gambar 3).


Dengan menggabungkan Gambar 2 dan 3 akan  didapatkan  sebuah  Fan  Dipole  de- ngan elemen yang dibonsai (dipendekkan) seperti  yang  diinginkan.  Pengembangan- nya dilakukan lewat beberapa tahap, sam- pai  didapatkan  tongkrongan  akhir  yang paling memenuhi design criteria di atas. 


Pada tahap awal dikembangkan rancang- an seperti di Gambar 4, di mana penulis menggunakan     kabel     dwi-konduktor (penulis paké kabel audio Monster 2x50 sepanjang 10 mtr/sisi), yang dalam kon-Elemen 40m figurasi seperti pada gambar (garis tebal A-A’) difungsikan sebagai sebuah bent- dipole untuk band 40m.

Di titik A’, salah satu dari dua konduktor disambungkan dengan kawat/kabel yang akan berfungsi sebagai konduktor ke 3 (di tengah) pada segmen 3-wire yang membentuk Linear Loading device (LLd) bagi shortened 80m dipole-nya.

Di titik B LLd disambungkan ke kawat/ kabel B-B’ yang berfungsi sebagai pig-tail (kawat penyambung) sepanjang 3 mtr yang melengkapi LLd ini untuk bisa reso- nan di 80m.

Segmen 3-wire ini dirakit dengan   jarak antar konduktor @ 5 cm, dengan meng- gunakan spacer dari potongan pipa PVC. Untuk tidak terlalu mengurangi efisiensi- nya,  jarak  dari  titik  A  ke  B  bisa  dibuat antara 6-8 mtr (penulis mengambil jarak moderat  7,5  mtr  semata  atas  pertim- bangan praktis: ukuran inilah yang bisa “masuk” di teras belakang QTH penulis, sehingga  mempermudah  pengerjaan  di bawah hujan yang hampir tiap hari turun di musim “basah” ini)


Dengan konfigurasi seperti di Gambar 4 masing-masing Dipole ditala (dengan proses pruning & trimming)   untuk reso- nan di 3.860 dan 7.055 MHz yang me- mang penulis niatkan sebagai design fre- quencies rancangan ini (menuruti default frequencies pada T-17). Ternyata konfigu- rasi ini GAGAL memenuhi design criteria butir  2  karena  sempitnya    bandwith  di 80m. Lagipula penggunaan kabel   dwi- konduktor dengan spasi antar-konduktor yang begitu rapat membuat interaksi antar-band yang amat “tajam”, sehingga adjustment di salah satu band akan membuat  titik  resonan  di  band  lainnya lari kemana-mana.


Perbaikan  dilakukan  dengan  memisahkan (splitting) dwi-konduktor dan mem- perbesar jarak antar konduktor (dari se- mula 10 cm menjadi 15 cm)   di titik B, dimana elemen 40m (digambarkan de- ngan garis biru) ditekuk sampé memben- tuk belokan U (U-turn).


Dengan konfigurasi seperti ini penalaan di masing-masing band bisa lebih mudah dilakukan karena tidak lagi ada masalah dengan interaksi antar-elemen.

Untuk memperlebar bandwidth di 80m, segmen pigtail B-B’ kemudian diganti dengan 2-wire open wire, sehingga dida- pakan  tongkrongan akhir seperti di Gambar 6 di halaman berikut.



Insya Allah  di edisi depan  bisa penulis punggah foto-foto proses perakitan Fan Dipole “gado-gado” yang menggabungan dua kiat pemendekan antena ini, serta pertelaan bagaimana penalaan dilaku- kan, terutama proses pruning & trimming segmen B-B’ untuk membuatnya cukup broadband (> 200 KHz) di 80m.


CU then …. [73]

Friday, 9 December 2011

Ngobrol Ngalor Ngidul 0608

Ngobrol Ngalor Ngidul 0608

NO TUNER Multiband Dipole, bagian III

Pengantar:
Salah satu di antara sekian banyak obse- si penulis adalah untuk mendapatkan se- buah desain antena Multibander yang bisa menjadi pilihan bagi para HF-mania yang ’pingin naikin antena pertamanya. Edisi kemarin kita sudah nguprek antena G5RV, W6JJZ Suburban Multbander serta titik resonan tiap segmen, sehingga terja- di log periodic effect yang berperan pula pada upaya broadbanding keseluruhan konfigurasi antena. Sekarang kita wedar akhir dari tulisan ini mengenai Corek-orekan penulis mengenai NO TUNER Multiband Antenna.

NO Tuner Multiband Antenna
SWR plot the Mistery antenna di low band-nya menyemangati niatan penulis untuk ’ngeksperimen lebih lanjut rancangan ini dengan mengetrapkan berbagai kiat sebagai upaya penyempurnaan ki- nerja W5GI tersebut untuk mendapatkan rancangan antena Multiband  80-10 m yang bisa memenuhi 4 butir design parameters yang disebut di awal tulisan, antara lain:


· Instalasi dilakukan dengan menekuk (bending) ujung-ujung bentangan ante- na sehingga didapatkan konfigurasi bent dipole berbentuk Inverted U , yang di samping untuk mendapatkan efek capacitive loading (yang dapat memperpendek ukuran fisik elemen) juga untuk mendapatkan bentangan yang tidak lebih dari 20 meter (parameter # 3);
· Menurunkan Q-factor antena untuk membuatnya lebih broadband sehingga penunjukan SWR bisa ditekan untuk tidak lebih dari 1 : 1.5 — terutama di low-band — supaya dapat dioperasikan TANPA Tuner (parameter # 4).

Melewati beberapa tahap bongkar-pa- sang, akhirnya untuk penurunan Q-factor didapatkan solusi dengan memperbesar diameter masing-masing Segmen A   dan C. Kedua  segmen yang semula berupa single wire diganti dengan kabel speaker kabel Monster  yang 2x80 untuk Segmen A, sedangkan Segmen C  diganti dengan 3-wire yang diparalel.

Segmen A yang sekarang terdiri dari dua ler kawat tersebut di short di ujung yang dikonèk ke inner conductor dari coax Segmen B, untuk meng-simulasi-kan sepotong sleeved element, sedangkan penggunaan multi-wire pada segmen C diadaptasi dari rancangan Double Bazoo- ka yang terkenal broadband itu.

Pelebaran bandwidth akibat menurunnya Q-factor ini diharapkan dapat menggeser titik resonan tiap segmen, sehingga terja- di log periodic effect yang berperan pula pada upaya broadbanding keseluruhan konfigurasi antena.
Pengerjaannya
Penulis mengambil jalan pintas dengan memathok ukuran 5 meter untuk masing- masing segmen, tapi buat the perfection- ist pengerjaan bisa diawali dengan mem- buat dulu sebuah dipole untuk band 20 m dari kabel/kawat biasa (ukuran satu sayap dihitung dengan rumus

L =  71.3/f

yang langsung difeed dari TX dengan 6-7 meter coax (1/2λxVF pada 20 m).

Dipole ditala di 14.175 MHz (frekuensi tengah band 20 m yang lebarnya 350 KHz itu). Begitu ketemu ukuran yang pas, ukuran ini dipaké sebagai acuan untuk memotong coax (segmen B).

Berikutnya adalah ‘ngebahan untuk Segmen A dan C, yang dari apapun bahan untuk membuatnya (seperti yang penulis contohkan dengan memakai kabel speaker dan kabel 3-wire untuk masing- masing segmen), usahakan untuk mendapatkan titik resonan di bawah, tarohlah di frekuensi 14.000 MHz untuk segmen A   — dan di atas, misalnya di 14.500 MHz untuk segmen C, untuk mendapatkan cakupan 500 KHz sepanjang band 20m itu. Proses penalaan Segmen A dan C  ini dilakukan dengan menggantikan kawat/kabel yang semula dibentang di ujung coax yang 5 meteran tadi (ingat, ... JANGAN merobah ukuran panjang coax yang sudah dipo- tong menurut rumus tadi, karena ukuran segitulah yang memang sesuai dengan sikon di tempat/lahan Anda!)

Sebagai matching stub penulis paké 8.5 meter 300  ohm low-loss foam dielectric TV-Twinlead kluaran Radio Shack type 15-1175 (kecipratan sepotong @ 10 mtr dari blanjaan OM Ika, YB3IK dari Whiskey- land). Ukuran diambil dengan memperhitungkan VF = 0.82 — 0.85 seperti disebut di sebelumnya. Kalo’  toh susssah menda- patkan TV-Twinlead yang mesti ‘ngimport ‘gini, seperti juga disebutkan di depan matching stub ini bisa dibikin dari parallel open wire jenis apapun —-termasuk tentunya yang swayasa/homebrew—, cuma aja mesti tlatèn untuk mencari ukuran panjang yang pas kalo’ tidak diketahui brapa nilai VF-nya (menghadapi sikon ‘gini penulis biasanya memperkira- kan VF = ± 0.95, yang lantas dipotong dikit-dikit pada proses penalaan)

Mengantisipasi  reactance yang bervariasi pada masing-masing band, di titik sam- bung antara matching stub dengan coax (feederline) ke TX penulis selakan sebuah Choke Balun yang dibuat dengan meng- gulung ujung atas coax sebanyak 6-8 gulungan dengan Ø ± 25 cm, SEBELUM disambungkan ke ujung bawah matching stub (lihat di gambar).

Maka  jadilah tongkrongan seperti di atas, yang begitu dicoba (awalnya pada keting- gian feedpoint dan kedua ujung sekitar 10 meter), ternyata menunjukkan kinerja yang nyaris memenuhi ekspektasi: di sepanjang band 80 m yang 400 kHz tersebut SWR tidak bergerak melewati 1:1.3, sedangkan di 40 m SWR bener- bener flat 1:1 dari 7.000—7.100  MHz. Agak mencengangkan adalah SWR 1:1.4 di sepanjang band 20m yang 350  KHz itu, karena dengan design frequency yang justru di band ini semula diharapkan SWR di sini bisa 1:<1.2. Di 15 m dan voice segment 10 m (28.500 MHz ke atas) didapatkan SWR 1:<1.4.

Baru beberapa hari diujicoba, angin gedé di Bogor mematahduakan tiang bambu di salah satu ujung dan menekuk pipa aluminium 1.25” (bekas boom Cubical Quad) yang disambung dengan pipa galvanized 1,5” di ujung lain, sehingga penulis mesti grounded bebera- pa minggu. Kemunculan berikut keting- gian feedpoint naik jadi 15 meter dengan bentangan yang sloping ke ketinggian 9 meter DPT di ujung-ujungnya.

Karena sudut bentangan di feedpoint jadi terlalu kuncup, kinerja antena malah agak ‘ngaco, sehingga akhirnya feedpoint diturunkan jadi 13 meter saja. Ujung 3- wire dipotong sekitar 1 meter untuk ‘nguber log periodic effect yang disebut di depan, tapi SWR plot jadi agak berobah:

80m  1: 1.3 (bandwidth 400 KHz)
40m  1: 1.1
20m  1: 1.4  (350 KHz)
15m  1: 1.4
10m  1: 1.4  (28.500– 28.900 MHz)

Memang  penalaan belum dilakukan seca- ra optimal tapi dengan SWR plot sema- cam itu penulis lantas brani bilang: Lang- kah pencarian sebuah NO Tuner Multiband Antenna sepertinya sudah menapak ke arah yang pas, tinggal ditekuni lagi ‘dikit —di fine tune— untuk menu- runkan SWR di hi-band.

Sebenarnya concern penulis lebih pada kinerja di lo-band, karena bagi mereka yang memang lebih rutin main di hi-band tentunya akan lebih praktis untuk bikin individual Gain---antenna di masing-masing band, karena ukuran (dan pengerjaannya) relatip lebih terjangkau untuk dikerjain
ato di-homebrew sendiri.

So, silakan rekans untuk bereksperimen lebih lanjut— karena bagaimana pun ba- gus sebuah desain tentunya masih diper- lukan adjustment di sana-sini untuk di- adaptasikan dengan sikon setempat. Sekadar hints: mungkin bisa dijajal meng- ganti salah satu segmen A   ato C  dengan linear loaded element untuk mendapat- kan dimensi yang lebih pendek (taruhlah mulai dengan 70% dari ukuran awal un- tuk tidak mengurangi efisiensinya — baca orèk-orèkan tentang linear loading device ini di BEON Sept-Oct. 2002); ato panjang matching stub-nya yang di-main-in ‘dikit ...

Akhir-ul-kalam .. it’s still room to explore, bro’ ~ to have one of your own, custom- mized for your SIKON (budget, available space, favorite bands ...):

· It’s a SIMPLE design
· It’s EASY to construct
· It WORKS, well (!)
[73]


Ngobrol Ngalor Ngidul 0607

Ngobrol Ngalor Ngidul 0607

NO TUNER Multiband Dipole, bagian II

Pengantar:
Salah satu di antara sekian banyak obse- si penulis adalah untuk mendapatkan se- buah desain antena Multibander yang bisa menjadi pilihan bagi para HF-mania yang ’pingin naikin antena pertamanya. Edisi kemarin kita sudah nguprek antena G5RV dan W6JJZ Suburban Multbander; sekarang kita akan bahas rancangan dari W5GI.

The W5GI Mistery Antenna
Tidak puas dengan keharusan menyela- kan ATU selain di band 20m (+ 40m pada W6JJZ), berbagai eksperimen dilakukan untuk mendapatkan rancangan dengan penunjukan SWR yang lebih jinak, teruta- ma di band-band bawah (80-40m). Salah satu rancangan yang terbilang anyar adalah The Mistery Antenna yang dibesut John P Basiloto, W5GI di majalah CQ edisi July 2003.

Footprint dan tongkrongannya ‘nggak jauh beda dengan G5RV karena sama- sama memakai 1/2λ matching stub dan juga sama-sama menjadikan frequency sekitar di band 20 m sebagai design fre- quency. Pada band ini keduanya bekerja sebagai 3x half wave collinear antenna, cuma Varney mengharapkan rancangan- nya menghasilkan radiation pattern ber- bentuk 4-lobes dengan Gain yang cukup tajam ke arah depan-belakang, sedang- kan Basiloto lebih menginginkan pola radiasi sebagai sebuah 6-lobes broadside array dengan Gain yang lebih merata.

Berbeda dengan G5RV dan W6JJZ yang radiator (sisi horisontal)-nya terbuat dari sebentang kawat utuh, pada W5GI satu sisi/sayap dipole-nya terdiri dari 3 segmen (sebut aja segmen A, B dan C). Segmen A = segmen C, dibuat dari kawat atau kabel biasa sepanjang 1/4λ pada design frequency di band 20 m (= ± 5 meter), sedangkan segmen B (di tengah) dibuat dari coax RG-58 yang dipotong SAMA PANJANG dengan segmen A dan C, sehingga tongkrongan W5GI bisa digambarkan sebagai berikut:


Perhatikan bahwa pada titik sambung dengan segmen C, outer braid dari coax Segmen B  di short dengan inner conduc- tor-nya, sedangkan di ujung lainnya (pada titik sambung dengan segmen A) outer braid dibiarkan terbuka (tidak konèk ke mana-mana). Pada titik itu segmen A langsung dikonèk dengan inner conductor coax.

Penyambungan segmen B yang agak aneh tersebut (sebenarnya tidak aneh lagi bagi mereka yang pernah bikin antena Double Bazooka) karena pada rancangan ini potongan kabel coax tersebut difungsikan sebagai pembalik fasa pada masing-masing sayap, dan inilah trick Besoloto untuk mendapatkan pola radiasi yang 6-lobes, broadside tersebut di atas.


Untuk matching stub-nya W5GI menggu- nakan 300 ohm window-type TV feeder dengan VF/velocity factor 0.91 (yang su- sah didapat di sini), tetapi dia juga bilang bahwa any parallel balanced wire bisa dipakai. Kalo’ nggak ketahuan berapa VF- nya tentunya ukuran yang pas ya mesti dicari dengan trial & error, potong dikit- demi-dikit, coba-dan-coba lagi… Sebagai feederline dipaké coax RG58 any length untuk menghubungkan ujung bawah matching stub ke TX.

Kinerja
Pada prototype-nya, Basiloto yang ‘ngeba- han antenanya dari kawat #14 (1.6 mm), dengan ketinggian feedpoint ± 8 mtr (25’) mendapatkan pola SWR sebagai berikut:

80m 1: 1.5---3.5 (bandwidth 400 KHz)
40m ± 1: 1.9
20m ± 1: 1.5
15m 1: <3 10m 1: 1.8 (di 28.35 MHz) 6m 1: 1.2–2.3 (bandwidth 2.5 MHz) 

Di WARC-band pun (kecuali di 30m, di mana SWR bisa melonjak sampé 1: >5) SWR masih bisa 1: <1.9. Bandingkan dengan pada G5RV dan W6JJZ, di band-band yang disebut di atas, kecuali di 20m (+ 40m pada W6JJZ) tan- pa ATU penunjukan SWR susah untuk diturunin di bawah 1: >5.

Apanya yang Misterious?
Kalo’ hasilnya memang begitu menjanjikan, lantas kenapa W5GI menyebut ran- cangannya sebagai the Mistery Antenna? Ini lantaran dia sendiri tidak bias mene-
rangkan bagaimana dan dari mana ante- na ini bisa bekerja (menurut dia) sebagai an excellent performer di berbagai band seperti itu (semula dia kan cuma meng- harapkan sebuah 3x  half wave collinear antenna dengan 6-lobes broadside radiation pattern di 20m seperti disebut di depan). Salah satu akal-akalan yang orisinil darinya (sesudah ter-korban-kan sekian puluh meter coax) adalah tidak seperti biasanya pada urusan yang berkaitan dengan potong-memotong coax, John menemukan bahwa dalam memo- tong coax sebagai pembalik fasa tersebut faktor VF-nya TIDAK perlu diperhitungkan.


Setidaknya tiga rekans di Amrik sono yang mencoba menyimulasikan antena ini di komputer mereka dengan berbagai para- meter yang berbeda (bahan, ketinggian feedpoint, jenis tanah di bawah bentang- an antena dan lainnya) ternyata menda- patkan “bacaan” yang di samping saling berbeda, juga cukup jauh dari hasil uji- coba nyata dan praktek lapangan yang dilakukan Besoloto, yang menguatkan ar- gumen bahwa memang ada misteri yang belum bisa terungkap dibalik keberhasi- lannya tersebut.

Nah edisi depan kita bahas uprekan penulis yang menghasilkan antenna seperti yang tertulis pada judul kolom ini :-)
[73]

Ngobrol Ngalor Ngidul 0601

Ngobrol Ngalor Ngidul 0601


RX Antenna 160 m, bagian II

Pada edisi lalu perangkum udah ‘ngulas tentang RX-antenna untuk Top-band, tapi masih belum ada kesempatan ngulas bagian matching unit ato tuner. Nah sekarang kita wedar semuanya sampe tuntas…

Well, karena Loop-antenna rancangan WN6F yang diwedar di edisi lalu itu memang dibuat untuk RECEIVE ONLY  (jadi jangan coba-coba ato terpikir untuk memakainya untuk memancar), untuk urusan SWR sih ‘nggak perlu diheboh- hebohin amat. Untuk optimizing kinerjanya di frekuensi tertentu, WN6F menganjurkan untuk menyelakan sebuah matching unit ato tuner sederhana di ujung feedline, sebelum di konèk ke RX.

Karena antenna ini TIDAK untuk meman- car, komponen-komponen tuner tersebut (L dan C) tentunya tidak harus dari jenis transmitting type yang memang ketat per- syaratannya.

WN6F menyebutkan rangkaian T seperti pada gambar di kanan, walau pun dengan rangkaian LC-series sederhana ‘aja sebe- narnya sudah cukup.

Keterangan:
C1 =  C2 =  225 — 325 pF
L =               28 µH (30 lilit 1 — 1,6 mm pada koke diameter 2”)
Nilai yang sama (untuk C1 dan L) bisa dipakai pada rangkaian LC-series yang disebutkan di atas.

Proses tuning cuma perlu dilakukan seka- li, sehingga begitu ketemu setting yang pas tentunya ‘nggak perlu diuthak-athik lagi. Karenanya, kalo’ memang dari awal diniatkan untuk memakai Tuner, sebaik- nya feedline-nya dibuat sependek mung- kin (taruhlah +/- 1 meter), yang justru membuat dimensi Loop-nya jadi lebih be- sar, yang sedikit banyak akan meningkat- kan daya tangkapnya. Tergantung lokasi (antara lain konduktifitas tanah di bawah- nya, adanya dinding penghalang ke arah yang dituju dan lain sebagainya), antenna ini bisa dibentang dengan sisi yang ada gap/celah sebagai sisi atas atau pun sebagai sisi vertical.

BTW, Loop-antenna besutan WN6F ini adalah salah satu RX-antenna yang direkomendasikan bagi mereka yang mau ikutan acara semacam Krakatau Low Band  QSO Party yang lalu.

73 es cu, de bam ybØko/1










‘Ngobrol ‘ngalor ‘ngidul (“3ng”) ihwal perantenaan sama Bam, yb0ko/1 kalo’ ada pertanyaan sila kirim via:

JARUM: buletin@orari.net
JAPRI: unclebam@gmail.com

Celah 1”

Masih Ingat ‘kan Ya? 0512

Masih Ingat ‘kan Ya? 0512

RX Antenna 160 m

Pada edisi ini perangkum ‘ngejanjiin mo’ ‘ngulas tentang RX-antenna untuk Top- band, tapi sebelum langsung ke situ ada sesuatu yang ketinggalan untuk “naik ce- tak” di edisi yang lalu, yaitu orèk-orèkan tentang antenna yang dipaké OM Budi, YB2UJY waktu ikutan Krakatau Low Band QSO-party bulan lalu.

Seperti yang sudah disebutkan, mas Budi memakai shortened loaded Dipole dengan ukuran yang tidak lebih panjang dari sebuah full size Dipole 80 M. Untuk yang berminat ‘ngejajal, gambar berikut adalah ukuran sebelah sayapnya:


Seperti bisa dilihat pada gambar, elemen- nya terdiri dari kawat/kabel diameter 1.8 – 2.0 mm sepanjang 5,10 meter (yang membuatnya juga bisa bekerja di 20 M) + pig-tail sepanjang 14,80 meter, dengan disela Loading  Coil yang dibikin dari 35 lilit kabel NYA 1,0 - 1,5 mm pada koker dari pipa PVC diameter 3” sepanjang +/-
20 cm, dengan ketebelan isolasinya sebagai spacer (jarak antar lilitan).

Untuk membuatnya bisa “masuk” ke la- han di QTH-nya yang memang pas-pasan, mas Budi  menggantung antennanya sebagai sebuah Inverted Vee dengan ke- tinggian feedpoint sekitar 16-17 meteran dari permukaan tanah. Belum ada “kajian teknikal” tentang kinerja dan karakteristik antenna ini, tapi mas Budi  cukup puas, karena dengan antenna yang sepenuhnya dirancang dan dirakit sendiri ini bliauw bisa ikutan masuk kelompok elite the Top Banders  dari QTH sendiri, setelah selama ini bliauw cuma bisa operate ramé-ramé kalo’ ada DX-pedition, Field day dan seba- gainya, walau pun di banyak kesempatan tersebut tokh mas Budi memakai antenna yang dia sendiri ikutan repot waktu ‘ngrancang dan naikinnya.

Kembali  ke awal tulisan, perangkum su- dah menyebutkan bahwa hampir semua antenna untuk TX juga bisa dipakai seba- gai receiving antenna.

Karena kebanyakan TX-antenna tersebut cenderung omni-directional karakternya, banyak yang terpikir untuk membuat RX antenna yang terpisah, yang uni ato bi- directional dengan dimensi yang syukur- syukur bisa ditangani sendiri (self- manageable) oleh sang operator. Orang lantas menoleh ke berjenis rancangan Loop---antenna yang memang bisa meme- nuhi kedua kriteria tersebut, seperti ran- cangan WN6F yang diwedar berikut ini.

Untuk mendapatkan efek bi-directional Loop ini dibikin dari kabel coax sepanjang 0,1 - 0,5 lambda, jadi untuk coverage 160 M  siapkan aja paling tidak 15 meter coax RG-58.

Dari   coax tersebut buat sebuah bentuk “?” (tanda tanya) terbalik, yang terdiri dari sebuah Loop berbentuk bujur sangkar sama sisi (3 - 4 meter per sisi) dan sejuntai ujung vertikal (sebagai feed line) yang diterminasi dengan konektor PL-259 untuk menyambungkannya ke RX.
Kedua  ujung Loop JANGAN sampai saling tersambung supaya tidak membentuk Loop yang tertutup. Dari   seutas coax ter- sebut akan didapat dua buah Loop, masing-masing Loop-1 yang merupakan receiving loop-nya, dan Loop-2 yang ber- fungsi sebagai coupling loop yang meng- kopel (pick-up) sinyal yang diterima lewat Loop-1 dan meneruskannya (melalui feed line) ke RX.

Loop-1 adalah shield ato outerbraid dari coax, yang seperti bisa diamati dari gam- bar berikut pada sisi atasnya dipotong (braid-nya aja) membentuk gap/celah selebar 1”. Ujung luar braid ini mesti dijumper ato dishort ke braid dari feedline.

Loop-2 adalah inner conductor dari coax, yang sebagai Coupling Loop meng-kopel sinyal yang diterima lewat gap/celah pada Loop-1 tadi. Berbeda  dengan Loop-1,
Loop-2 ini dibuat floating, artinya ujung- nya (+ pada gambar) TIDAK disambung ke mana-mana.

Lho, kok semua ukuran dibuat fixed ‘gitu, bagaimana kalo’ mau adjusting SWR ato nge-fine tuning ke frekwensi tertentu? Well, antenna ini dirancang hanya untuk RECEIVE ONLY, jadi jangan coba-coba ato terpikir untuk memakainya untuk meman- car, jadi untuk urusan SWR sih ‘nggak perlu diheboh-hebohin amat.
Untuk optimizing kinerjanya di frekuensi tertentu, WN6F menganjurkan untuk me- nyelakan sebuah matching unit ato tuner sederhana di ujung feedline, sebelum di konèk ke RX.

Karena antenna ini TIDAK  untuk meman- car, komponen-komponen tuner tersebut (L dan C) tentunya tidak harus dari jenis transmitting type yang memang ketat persyaratannya.

Edisi mendatang kita akan wedar rang- kaian T yang disarankan WN6F yang gampang dibuat sendiri.

73 ES CU, DE bam ybØko/1
[73]

Masih Ingat ‘kan Ya? 0511

Masih Ingat ‘kan Ya?  0511


Berjenis Transmitting Antenna untuk 160 m

Kalau Multee Antenna yang diulas di edisi lalu lebih cocok disebut sebagai General Purpose Antenna (antena serbaguna), maka di edisi ini akan diulas tentang Antenna   yang khusus direka dan dinaikin untuk keperluan Transmit (TX Antenna), walau 99,99% TX antenna tentunya juga bisa dipakai untuk RX. Seperti biasanya, dalam hal ini perangkum ‘ngga’ bakalan reinventing the wheel (!), jadi kita rujuk aja berjenis antenna yang akhir-akhir ini (sejak demam top-band mulai mewabah di INA) disebut-sebut pada postings dan kutipan korepondensi OM Yo, YC0LOW, sang jawara — di milist orari---news.

Gerry Hohn, VE6LB, di artikel “The Myths of Low-Band DX-ing”' di majalah CQ Feb- ruari ‘94 (seperti dikutip OM Jo YC0LOW pada posting tgl. 18/03/2006) menye- butkan: Antena   transmit (dengan kawat/ tubing) berpolarisasi vertikal, dengan gro- und yang baik, akan memberikan kejutan dan hasil baik. Polarisasi vertikal akan memberi sudut pancar radiasi yang ren- dah, sehingga path---loss ke stasiun DX menjadi lebih sedikit (walau pun) tipe an- tena seperti ini bukanlah pilihan untuk bekerja dalam jarak dekat.


Bob YB5AQB:  Kalau lagi di Jakarta ‘nge- bentang wire vertical sepanjang lebih dari 40 m, yang dibentang dari jendela balcon lantai 22 Aston   Hotel, ‘nglèwèr ke bawah seperti pancingan ikan (posting OM Dudy YB0DPO 24/11/2005), sedang di home basenya di Batam  ia menggunakan ante- na inverted-L sepanjang 42 m. Sisi   verti- kalnya 20 meter di atas permukaan ta- nah, sisanya membentang horizontal (posting OM Jo YC0LOW 03/02/2006).

YC0LOW::: Antena   transmit adalah sloper dipole ½λ dengan ketinggian antara 15 m s/d 50 m di atas permukaan tanah. Feed point berada sekitar 30 m DPT, dengan feederline berupa parallel-wire 450 Ohm (posting OM Jo YC0LOW 28/01/2006) YE1ZAT (Club Station  ORLOK Bekasi)::: Inverted-V dengan feedpoint setinggi 30 m (korespondensi OM Heri, YB1KAR le- wat japri dengan OM Jo, YC0LOW,
10/02/2006)

Budi YB2UJY, menggunakan Trap-Dipole dengan panjang kawat sekitar 40 m, ke- tinggian feedpoint 17 m DPT dalam for- masi inverted-V. Antenna ini dapat juga digunakan di band 20 m (posting OM Jo YC0LOW 10/04/2006).

Sesuai   sikon di tempat Anda, silakan pilih antenna macam mana yang kira-kira ba- kal paling affordable (terjangkau) untuk Anda naikin.


Mengakhiri orèk-orèkan kali ini, karena satu gambar lebih informatip ketimbang seribu kata, perangkum coba memindah- kan beberapa dari blah-blah-blah di atas ke dalam bentuk gambar, seperti corat- coret di kolom sebelah.

Di   edisi depan akan kita tengok RX antenna yang dipakai para Top-bander kita, so until then... CU es 73

Masih Ingat ‘kan Ya? 0510

Masih Ingat ‘kan Ya? 0510

Rancangan Antena Untuk DXing di Low-Band (160 m), bagian II

DX-ing di top band (160M) merupakan ambisi ato katakanlah mimpi (the ultima- te dream) bagi para amatir yang memang menekuni sisi-sisi “susah” dari hobinya. Edisi  lalu kita udah ngebahas setengah jalan mengenai Shorted Vertical Antenna. Sekarang mari komplitkan bahasannya...

Untuk 160M, Les Moxon G6XN di buku "HF antennas for all locations" menganjur- kan jarak minimal 32’ (9,77 mtr) DPT/dari permukaan tanah untuk minimizing the ground losses tersebut. BTW, ingat ante- na L yang pernah diulas di kolom ini bebe- rapa waktu lalu? Singkat kata, antena L (yang aslinya berupa center-fed-900 bent- dipole dengan linear loaded element un- tuk 40m, tapi dibuat bisa bekerja sebagai Multibander dengan memakai parallel- balanced-open wire sebagai feeder line menggantikan coax) bekerja sebagai se- buah antena vertikal yang “dipaksa kerja” dengan SATU radial saja – ternyata efisi- ensinya tidak melorot jauh banget (pada contoh soal disebutkan antena L dengan panjang elektrik hanya ± 1/8λ untuk 80m dan feedpoint yang “mengapung” sekitar 5 meteran DPT di DX window masih bisa dipakai untuk QRP-QSO dengan voice ke Perth di pantai barat VK-land). Sebenar- nya rancangan antenna L ini diilhami ran- cangan “roof-mounted” antenna (dengan panjang sisi vertikal & horisontal sama- sama 30 feet) yang dijumpai di buku Antenna Anthology besutan ARRL di akhir 70an  (dan beberapa edisi ARRL Hand- book dan Antenna Handbook tahun-tahun sesudahnya). 

Nah, kita mengaplikasikan akal-akalan ini pada rancangan Multee. Taruhlah tiang (ato pohon kelapa, kalo’ perlu disambung bambu) yang ada tinggi- nya sekitar 20 m, dengan demikian “titik terminasi” (untuk selanjutnya disingkat TT) bisa mengapung di ketinggian sekitar 5 mtr DPT, cukuplah untuk ‘nggak ‘nyrim- petin orang yang lewat dibawahnya (wa- laupun kalo’ bisa, seperti disebut di atas tambah jauh posisi TT dari permukaan ta- nah, tambah rendah pula take-off angleyang dihasilkan). Dari TT seyogyanya te- tap ditarik kabel ke bawah, yang lantas dikonèk ke ground rod berupa sebatang pi- pa ledeng yang seutuhnya ditancep abis ke tanah (garis solid di gambar edisi lalu). Selain untuk koneksi ke ground, tarikan kabel ini juga untuk menjaga supaya sisi vertikal tetap ‘ngegantung lurus &   ‘nggak mobat-mabit ketimpa angin. Pada TT sa- lah satu ujung sisi vertikal dikonèk ke in- ner conductor kabel coax seperti sakmus- tinya, sedangkan ujung sisi satunya diko- nèk ke setidaknya 8 potong radials @ 10 meteran. Untuk menentukan jumlah dan ukuran radials ini bisa dirujuk beberapa “aksioma” tentang OFF-ground radial/counterpoise, antara lain:

1. More short radials are better then less long ones – lebih banyak radial yang walaupun relatip pendek lebih baik ketimbang hanya beberapa ler radial yang panjang;
2. Idealnya radial/counterpoise tersebut dipotong paling tidak sepanjang bentangan antennanya sendiri, dalam hal ini cukup 1/2 x 12,35 m, ato ± 10 meteran.

Untuk memudahkan instalasi, salah satu trik yang pernah penulis lakukan adalah dengan membuat “mounting bracket” da- ri aluminium sheet 2mm ukuran 20 x 10 cm. (lihat A di gambar bawah). Aluminium sheet tersebut ditekuk 900  persis dite- ngah-tengah sehingga membentuk seper- ti huruf L. Pada sisi horizontalnya bikin 6 buah lobang: satu di tengah Ø 5/8”  (un- tuk chassis mounted female connector SO-259); 4 lobang di-masing-masing po- jok untuk “mounting” radialnya; 1 lobang di salah satu pinggir sejajar dengan lo- bang yang 5/8”  (untuk koneksi ke salah satu ujung open wire); sedangkan di sisi vertikalnya siapkan saja 4 lobang (kalo’ perlu nantinya bisa dipaké untuk ‘nyek- rupkan mounting bracket ini misalnya ke potongan kayu kaso – ato dengan U-clam- ps di mount ke pipa yang sekaligus nyam- bung ke ground rod tadi). Biar ‘nggak ke- repotan, sebaiknya pembuatan lobang di- lakukan sebelum plaat aluminium terse- but ditekuk (gambar B  di bawah).


Untuk radialnya siapkan 4 potong @ 10 meteran kabel speaker (yang merah-item, ato kalo’ memang “ado pithi” bisa aja pa- ké kabel audio Monster) ato kabel kelistri- kan di rumah (kenur ato Zip cord), yang berupa kawat serabut (stranded wire) Ø ± 1mm yang dilapis plastik/vynil. Apa pun kabel yang dipilih, cari yang salut/lapis vynilnya tipis tapi rapat melapis kawatnya sehingga tidak mudah ke”sesep”an air (di pasaran banyak dijumpai kabel yang justru lapis plastiknya yang tebel, kawat se- rabutnya sendiri cuma terdiri dari 5-7 ka- wat dengan anyaman yang jarang-jarang). Kalo’ mau rapih, sebaiknya salah satu u- jung diterminasi dengan cableshoe/kabel schoen/sepatu kabel, bisa paké yang ber- bentuk ring, supaya gampang di sekrup- kan di empat pojok mounting bracket. Be- gitu sudah tersekrup rapi, pisahkan/belah kabel yang dua potong jadi satu tersebut dan tarik ke 8 arah dengan sudut antar bentangan yang (seyogyanya) sama (gam- bar C). Ujung-ujung luar radials tersebut bisa diterminasi dengan isolator apapun (potongan pipa PVC, acrylic sheet dsb.), a- sal jangan lupa menutup (meng-seal)-nya baik-baik sehingga kawatnya benar-benar tidak terdadah (exposed) keluar (penulis lakukan dengan menge”cor” ujung-ujung tersebut (+ sekrup, titik-titik solderan dan sambungan-sambungan lainnya) dengan lem epoxy jenis fast-dry —seperti Araldit ato Dextron fast— ato kalo’ lagi bokèk ato sekedar untuk instalasi sementara cukup diolesin aja beberapa kali tebel-tebel de- ngan sisa-sisa cutex/cat kuku). Di sam- ping untuk water + weather proofing su- paya ‘nggak cepat terkorosi, patut diingat bahwa pada waktu transmit radials ini a- kan HOT with RF  !!! sehingga mesti diamankan supaya tidak ada oknum lewat di bawahnya yang keslomot (kalau lahan ti- dak memungkinkan, ujung-ujung radials tersebut bisa ditekuk ke samping atau di- klèwèrin ke bawah). Tampak samping mounting bracket tersebut dengan semua “komponen” terpasang (terkonèk, tersol- der, tersekrup) akan seperti yang terpam- pang di gambar (D), walaupun gambar di atas tidak dibuat dengan skala yang benar.

Penalaan dilakukan seperti juga pada rancangan lain, yaitu dengan proses trim- ming & pruning (potong memotong ‘dikit- demi-‘dikit) ujung-ujung sisi tegak pada ti- tik terminasi, sampai didapatkan SWR ter- rendah pada design frequency. Karena sempitnya bandwidth rancangan ini (apa- lagi kalo’ antena ini mau digunakan seba- gai duo-bander) maka pemakaian ATU / antenna tuning unit sangat dianjurkan.


Nah, kita cukupkan sampé di sini dulu ob- rolan tentang antena sederhana yang ser- baguna (bisa untuk TX dan RX) ini, just to encourage the readers — ato sekedar se- bagai “pengetuk pintu” untuk bisa segera ikutan main di topband (160M) yang mys- terious itu. Di edisi depan kita coba ‘nyari gain (atau directive) antena yang seyog- yanya juga cukup manusiawi (‘nurut uku- ran amatir anak negri) serta antena untuk receiving-nya.  Akhirul kalam, berikut “pe- san sponsor” dari OM Jo, YC0LOW – jawa- ra Topbander kita yang “turun gunung” sesudah bertapa sejak beberapa tahun belakangan ini (baca tulisan bliauw di halaman-halaman depan edisi ini):
Let’s keep the topband fully alive in YB--- land… Untill then, CU  … de bam, ybØko/1.

[73]

Masih Ingat ‘kan Ya? 0509

Masih Ingat ‘kan Ya? 0509

Rancangan Antena Untuk DXing di Low-Band (160 m)

DX-ing di top band (160M) merupakan ambisi ato katakanlah mimpi (the ultima- te dream) bagi para amatir yang memang menekuni sisi-sisi “susah” dari hobinya (jadi bukan mereka yang asal brak-brik- brok doang). Bagi mereka yang berduit, untuk urusan Rig tentunya ‘nggak terlalu jadi masalah, karena rig secanggih apa pun masih bakalan bisa kebeli (‘nggak se- mua transceiver dengan cakupan sampé 160 m bisa receiving dengan baik di band ini), tapi biar duitnya se“kenceng” apapun hampir semuanya mesti mikir dua kali ka- lo’ sudah harus ‘mikirin antena macam mana yang mesti diadain untuk memenu- hi ambisi yang satu ini. 

Buat  urusan ante- na, biasanya para DX-ers lantas ‘ngebo- lak-balik buku setebel ±400 halaman ber- tajuk Antennas and Techniques for Low Band DX-ing besutan John Devoldere ON4UN (Top-band DX-er kelas dunia); ini bisa dianggap sebagai buku pinter yang selalu dirujuk oleh mereka yang pingin ikutan “main” di band ini. Kendala utama untuk ikutan main di 160 m adalah kebe- radaan lahan yang cukup untuk ‘mben- tang antena yang memadai, baik untuk transmitting maupun receiving-nya. Untuk mendapatkan hasil optimal kaya’nya an- tena yang berbeda antara TX dan RX me- rupakan keharusan di band ini (!). Jawara- jawara dari sini, semacam OM Lumban  YB0WR, OM John   Andreas YB0JH (SK), OM Johan YC0LOW dsb. bisa berjaya ka- rena mereka selalu ‘gunakan antena yang terpisah begitu… dan sepertinya untuk re- ceiving antenna Beverage adalah “pilihan pertama” bagi mereka yang memang mumpuni untuk mengadakannya (‘mbi- kinnya sih ‘nggak susah-susah amat, tapi ukurannya itu lho —minimal sepanjang 1λ alias ±160 meter— bikin orang ngepèr (!).

KRITERIA ANTENA UNTUK 160 M 
Pendatang baru di band “aneh” ini (biar lagi ‘ngebuka’-blak bisa-bisa langsung ter- tutup-tup, lantas di band cuma kedenga- ran krosokan noise doang) paling ‘nggak akan memerlukan antena omnidirectional (karena biasanya kita ‘nggak tau bukaan lagi ke arah mana) dengan take-off angle rendah (untuk bisa ‘nge-DX), baru nanti dipikirin gain antena yang sekiranya ma- sih di dalam jangkauan untuk bisa diada- in. Yang pertama terpikir tentunya antena dipole ato berjenis variantnya, tetapi kem- bali ke urusan lahan, ukuran dipole de- ngan bentangan yang ±80 m itu tentunya bakal bikin ciut nyali kebanyakan amatir radio… Kalo’ DI-pole ‘nggak terjangkau, bagaimana kalo’ lantas ‘nyobain MONO- pole (DI►dua, MONO►satu, pole►tiang) aja? Nah, Monopole ato vertikal antenna paling sederhana adalah quarter wave vertical dengan ukuran ketinggian 40 me- teran, yang toh masih lebih tinggi dari po- hon kelapa ukuran sedeng!

SHORTED VERTICAL ANTENNA
Untuk ‘nyari rancangan yang agak “manu- siawi” - yang bisa digantung ato dibentang di antara pepohonan kelapa (kalo’ dapat site di tepi pantai, yang sebenarnya amat ideal dari sisi groundingnya), cemara ato pinus (kalo’ dapat site di villa ato resort di pebukitan ato kaki gunung), dari satu publikasi ARRL dicomot rancangan Multee Antenna seperti gambar berikut:


Multee antenna bisa bekerja sebagai duo- bander antenna, dengan ukuran-ukuran pada gambar akan didapat antena yang bekerja di band 160 dan 80 m. Tentunya rancangan ini juga bisa di scale-down bu- at mereka yang mau nge-DX di 80-40 m dari QTH  dengan lahan terbatas, dengan membagi 2 ukuran-ukuran tersebut. Ja- ngan terkecoh dengan tongkrongannya yang mirip 40 m folded dipole tersebut (!), karena di 160 m rancangan ini akan be- kerja sebagai sebuah TOP-loaded vertical, di mana flat top/sisi horizontal yang 2 x
10,65  m itu berfungsi sebagai Capacitive- hat bagi element vertical yang 15,85 m.

Walau pun sebenarnya sisi vertikal mau pun horizontal bisa dibikin dari open---wire dengan ukuran spasi (jarak antar kawat) yang sama, kalo’ spasinya terlalu kecil (5- 10 cm) dikhawatirkan sisi horizontalnya bakal gampang keplintar-plintir begitu di- naikin, karenanya demi kemudahan insta- lasi biasanya lantas diambil spasi 30-40 cm untuk sisi horizontal ini (seperti yang dilakukan rekans kalo’ bikin Folded Dipo- le). Untuk sisi vertikal spasi kecil ‘nggak jadi masalah, karena biasanya pada in- stalasinya memang sengaja diplintir (se- tiap 30-40 cm) supaya bisa tetap tergan- tung lurus dan ‘nggak mobat-mabit ketiup angin, yang disamping membuatnya gam- pang putus juga dikhawatirkan meng- ganggu karakter balanced-nya. Mesti di- ingat, di 160 m, sisi tegak yang 15.85 m itu (+ capacitive hat-nya) berfungsi seba- gai radiating element dengan current ma- xima pada feed point yang ditandai de- ngan “titik terminasi” pada gambar; ma- kanya bisa di feed langsung dengan coax 50 Ω pada titik dengan low impedance tersebut. 

Di 80 m, sisi vertikal berfungsi sebagai balanced open-wire matching transformer yang men”jodoh”kan impe- dansi di feed point ½λ dipole (yang dite- kuk ke atas dan ujung-ujungnya disatu- kan, sehingga secara fisik bentangannya tinggal ±¼λ saja) dengan impedansi 50 Ω coax feeder ke TX. Karenanya, usahakan sisi vertikal ini bisa bener-bener tergan- tung lurus dan terbebas dari metallic ob- ject apa pun yang mungkin bakal menga- cokan fungsi atau kerjanya yang memang berbeda pada ke dua band tersebut. Un- tuk mengurangi bentangan (span)-nya (ato mengurangi jumlah tiang), Multee an- tenna ini juga bisa dibentang membentuk Inverted Vee biasa. Kalo mast/tiangnya dari pipa ato besi siku, usahakan sisi te- gak tergantung ±50-100 cm dari tiang ter- sebut supaya tidak terjadi interaksi antar mast dan antena.

RADIAL SYSTEM
Menyadari bahwa kunci keberhasilan se- buah vertical antenna adalah keharusan adanya radial system yang nyaris sempur- na, brani tarohan begitu mengamati gam- bar di atas paling ‘nggak 60% dari pemba- ca sudah males duluan untuk ‘ngejajal rancangan ini. Teks asli naskah ini meng- syaratkan untuk membentang minimal 20 radial sepanjang 16-18 m (untuk 160 m) ato 8-10 m (untuk 80 m) di bawah “titik terminasi” pada gambar.

Pada pemasangan antena vertikal, salah satu “trick” untuk mengurangi jumlah ra- dial adalah dengan memasangnya secara OFF-ground, ato menjauhi tanah… dengan demikian mengurangi losses konduktivi- tas tanah di bawahnya (yang sekalian juga bisa menurunkan take off angle-nya).

Karena keterbatasan tempat, mari kita lanjut bahasan elemen radial di edisi de- pan. Akhirul kalam, berikut “pesan spon- sor” dari OM Jo, YC0LOW – jawara Top- bander kita yang baru “turun gunung” se- sudah bertapa sejak beberapa tahun be- lakangan ini (baca tulisan bliauw di hala- man-halaman depan edisi ini): Let’s keep the topband fully alive in YB---land... Untill then, CU… de bam, ybØko/1.

[73]

Masih Ingat ‘kan Ya? 0508

Masih Ingat ‘kan Ya? 0508

3 Bander Antenna (80-40-15 m) Dipole

Antenna   multiband yang paling sederha- na untuk amatir radio tingkat Siaga   dan Penggalang (walaupun bukan barang ter- larang buat Penegak berkantong cekak) adalah antenna kumis kucing (atau FAN Dipole, kata orang sono), yang berupa be- berapa buah Dipole (untuk masing-ma- sing band) yang di feed jadi satu. Karena antenna untuk band 40M bisa juga beker- ja sebagai triple harmonic di 15M, maka untuk mendapatkan 3 bander (80-40-15 m) antenna lantas cukup dibuat 2 (dua) buah Dipole   saja, masing-masing untuk band 80 dan 40M (gambar bawah).

Untuk memudahkan pengerjaan dan in- stalasi-nya, elemen-nya lantas bisa dibuat dari zip-cord (kabel untuk instalasi ke- listrik-an di rumah) atau kabel speaker (yang merah-item, atau paké kabel audio jenis Monster yang memang bagus untuk di-alihfungsi-kan jadi bahan antenna) -- yang berupa 2 (dua) ler atau utas kabel yang dari pabrik di mold dijadiin satu. Kabel tersebut dipotong seukuran 1/2λ di 80 m, kemudian salah satu konduktornya dipotong (persisnya dikowak, karena bagi- an ujung sesudah titik potongan tetap di- biarkan di tempatnya) sebagai elemen 40 m (gambar bawah).


Untuk bisa menahan beban tarikan ke kiri/kanan pada bentangan antenna yang 40 meteran tersebut maka idealnya elemen dibuat dari kawat dengan diameter 1.6 – 2 mm, sehingga kaya’nya feeder TV (yang juga berbentuk 2 ler kawat dijadiin satu) adalah merupakan pilihan terakhir, karena sekarang ini sudah susah dicari kabel beginian yang cukup gedé diameter konduktornya. Dalam praktek, mesti dipi- kirkan juga bagaimana cara ‘ngakali agar bagian yg dikowak tadi tidak tersobek karena kuatnya tarikan ke kiri dan ke kanan (misalnya dengan menjepit bagian tersebut di antara dua potongan kulit (ba- tang) bamboo @ 10-13 cm, terus di cor dengan lem epoxy jenis dry fast -– yang bisa mengering dan mengeras dalam waktu sekitar 5 menit).

Note:  sekitar tahun 72-73, selama bebe- rapa bulan penulis sebagai ycØko sempat mengudara dengan rancangan ini dari QTH di daerah Slipi, dengan memaké ribbon-type TV feeder line (yang zaman itu masih bisa didapat dengan konduktor serabut diameter +/- 1mm) sebagai sisi flat-top dan coax RG-213 untuk feeder ke rig lawas TRIO TS-500.

Dengan   mengambil 3,700 &  7,050 MHz sebagai design frequency, bisa dibahan element dengan ukuran L80  = 2 x 19.25 = 38.50 mtr dan L40  = 2 x 10 = 20 mtr. Uku-  ran “pas”-nya tentunya nanti dicari lewat proses pruning & trimming (pemotongan ‘dikit-demi-‘dikit) pada saat penalaan.

Bent Dipole untuk kapling BTN/Perumnas 
Bentangan yang hampir 40 meteran ter- sebut tentunya membuat keder rata-rata amatir di daerah perkotaan, yang mesti ‘nrimo untuk tinggal di kapling-kapling BTN atao PERUMNAS, atao suk-sukan be- radu pagar di daerah-daerah agak pinggi- ran. Mengambil asumsi ukuran kapling yang 10x12  m2 atau 7x15 m2, barangkali salah satu pilihan yang bisa dijajagi ada- lah dengan menekuk (bending) Dipole ter- sebut, sehingga didapatkan bentuk Loop yang tidak sama sisi (lebih mirip bentuk persegi panjang atao Rectangular) seperti di gambar berikut.

Supaya didapatkan kinerja (terutama efisiensi-nya) yang tidak terlalu mlèncèng dari aslinya, ada beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi, a.l.:

1. Segmen   A   idealnya TIDAK LEBIH PEN- DEK dari 9 meter (lihat keterangan di bawah).
2. Segmen   W idealnya dibuat sependek mungkin, tapi JANGAN lebih pendek dari 1,25 mtr.
3. Umpama saja cuma kebeli 20 meter kabel dual conductors (dibagi 2 jadi @ 10 mtr per sayap, yang berarti sudah deket dengan ukuran 1/4λ di 40 m), segmen C adalah untuk meng-genap- kan/memperpanjang elemen untuk mendapatkan ukuran 1/4λ di 80 m yang kl. 19 mtr/sayap itu. Prunning & trimming dilakukan pada segmen C ini, sehingga tidak harus memotong-mo- tong kabel dual-conductors yang relatip lebih mahal.
4. Idealnya antenna dibentang pada bi- dang horizontal (jadi gambar di atas ta- di bisa dianggap sebagai gambar TAMPAK  ATAS).
5. Untuk lebih menghemat tempat, insta- lasi bisa saja dibuat sebagai Inverted Vee dengan posisi feedpoint yang se- yogyanya tidak lebih rendah dari 10 meter (1/8λ pada band 80 m). Bertam- bah tinggi posisi feedpoint, bertambah bagus juga kinerja yang bisa diharapkan (!)
6. Antenna   di feed dengan coax RG-58, seyogyanya lewat current balun 1:1 yang diselakan di feedpoint.

Berikut  adalah 4 opsi ukuran/parameters untuk 3-banders Bent   Dipole  yang bisa di- coba (2 opsi di kolom paling kiri akan menghasilkan tampakan berupa persegi panjang yang “gemuk” – sehingga mung- kin harus dibentang di antara 4 tiang, se- dangkan 2 ukuran di kolom paling kanan barangkali lebih cocok untuk mereka
yang beruntung untuk bisa ‘mbentang an- tenna ‘nyebrangi jalan, atao kebetulan ada kapling di sebelah yang belum dibangun):



Penalaran Kerja Antenna dan Kinerja yang Diharapkan
Butir  1 – 2 di atas bisa diterangkan dengan mengamati diagram distribusi arus/current distribution pada bentangan antenna 1/2λ dalam kaitannya dengan beberapa kaidah dalam urusan pembon- saian antenna sebagai berikut (baca juga suntingan OM Sudarmanta, YC1DCN di rubrik 3-NG berturut-turut pada BEON 3 edisi yang lalu):

1. Sekitar 87% dari sinyal yang dilempar ke angkasa berasal (atau berangkat) dari bagian antenna yang memben- tang +/- 67% di tengah-tengah ben- tangan antenna.
2. Dalam melakukan pembonsaian upa- yakan untuk mendapatkan ukuran ba- ru yang TIDAK LEBIH PENDEK dari 70% ukuran asli.
Bertolak  dari kaidah #1 sebisa mungkin upayakan untuk tidak menguthak-athik bagian yang 67% tadi, yaitu bagian de- ngan current loop (maxima) pada benta- ngan antenna.


Gambar di atas memperlihatkan distribusi arus pada bentangan antenna yang me- ngambil angka bulat 40 mtr sebagai uku- ran 1/2λ pada 80 m, di mana lantas bisa diperkirakan segmen yang 67% tsb. mem- bentang sekitar 13 mtr per sayap (dihi- tung dari dari feed point). Merujuk kepada kaidah # 2 didapatkan bentangan sekitar 9 mtr/sayap adalah merupakan ukuran MINIMAL yang harus dipertahankan, se- hingga ukuran A yang kurang dari 9 mtr pada tabel di atas hendaknya dianggap sebagai suatu nilai yang kompromistis si- fatnya, yang tidak akan bisa memberikan kinerja optimal.

Dengan   kondisi instalasi yang sama, di 80 m dengan opsi L=19 mtr kinerja bent dipole (terutama efisiensi)-nya tidak akan terpaut jauh atau nyaris sama dengan full-size Dipole biasa.  Ke”tebel”an kon- duktor (dari 2 ler kawat yang dirangkap) bisa seduikiiiit memperlebar bandwidth- nya. Di   40 m bandwidth 100 KHz sepan- jang band sepertinya akan gampang un- tuk bisa didapatkan; sedangkan di 15 m dengan panjang elemen yang mendekati ukuran 1λ tersebut antenna ini akan be- kerja sebagai sebuah collinear Zepp Antenna dengan Gain sekitar 2 dBd.

73, de bam, ybØko/1

Masih Ingat ‘kan Ya? 0507

Masih Ingat ‘kan Ya? 0507

Merancang “Shortened (Dipole) Antenna”, bagian III

Sudarmanta Tri Widada – YD1DCN

Pengantar:
OM Sudarmanta, YD1DCN mencoba me- nuangkan ilmu yang diinspirasi dari tuli- san Luiz Duarte Lopes, CT1EOJ dari maja- lah QST edisi Oktober 2003, yang tentu- nya tidak bisa diakses begitu aja oleh ma- yoritas pembaca BEON (so, matur nuwun mas Dar – atas partisipasi dan kontribusi Anda   dalam upaya pengentasan kemis- kinan ‘ilmu anak negri, terutama di bi- dang perantennaan ini). 73 de YB0KO/1.

Contoh keempat
Gambar 5 menunjukkan bagian A   tetap sama dengan 30 derajat dan kumparan bernilai 25 µH.



Dihitung panjang C2  sebagai berikut: X2 = -j cot (60) = -j325
XL untuk nilai 25 µH = +j1126
X1 = X2 – XL
     = -j325 – j1126
     = -j1451
     = -j Z0 cot b
cot b = 1451 / 563
        = 2,577
     b = 21,20 derajat
C2  = ( 21,20 /180 ) 21,22
      = 2,50 meter


Panjang antena jadi 12,1 m, lebih pan- jang sedikit namun bagian A tetap, tidak dikurangi. Dalam praktek, akibat “end effect“ dan penalaan akan menghasilkan panjang antena sekitar 10,6 m saja.


Antena   yang dibuat OM Luiz untuk meng- konfirmasi hasil perancangan ini dibuat menggunakan kawat yang biasa diguna- kan untuk kabel listrik rumah, kawat tembaga # 12 (dia. 2 mm) isolasi plastik. Ha- silnya setelah dilakukan penalaan dapat dilihat pada gambar 6. Cara  pembuatan Kumparan dapat dilihat di gambar 7 & 8.


Kesimpulan
Antena   yang diperpendek kinerjanya me- mang tidak sebaik full size half-wave dipo- le, namun walaupun pengurangan efisien- sinya hanya sedikit bila kondisi memung- kinkan tentu lebih baik menggunakan half
wave dipole yang full-size. 

Pemasangan loading coil merupakan cara yang efektif untuk mengatasi problem keterbatasan lahan, dan artikel ini mengemukakan ba- gaimana cara merancang pemendekan antena untuk mengatasi bermacam-ma- cam keterbatasan. Mudah, bukan? Semo- ga sehabis membaca (dan memahami) artikel ini rekan-rekan dapat merancang sendiri “rotary dipole“ dengan cara dan metode yang lebih sistimatis, tapi tidak meninggalkan sisi-sisi praktisnya.
Selamat mencoba.

[73]