Showing posts with label long wire. Show all posts
Showing posts with label long wire. Show all posts

Monday, 5 December 2011

Ngobrol Ngalor Ngidul 0412

Ngobrol Ngalor Ngidul 0412  

End Fed Antenna  

kalo’ ada pertanyaan silah kirim via orari-news@yahoogoups.com, atau langsung ke
unclebam@indosat.net.id

Buat para HF-mania, begitu IAR keluar dan call sign sudah “turun”, biasanya yang  kepikir duluan adalah untuk bagaimana bisa langsung naikin antenna di band 80M.

Bagi mereka yang “ada modal”, tentunya sebuah center-fed Dipole yang di feed paké  kabel coax adalah merupakan pilihan pertama, tapi buat yang serba cekak (cekak di lahan, cekak di kantong) Dipole sederhana macam itupun barangkali masih merupakan sesuatu yang “out of question” alias mesti disisihkan dari pikiran (dan khayalan).

Buat kelompok yang disebut belakangan, barangkali yang lantas teringat adalah dialog yang pernah didengar — apa di frekwensi, atau pas ada acara eyeball antar rekan —, yang ‘nyebut-‘nyebut tentang antenna kawat jemuran, yang dalam sejarah per-radio amatir-an anak negri memang sering disebut sebagai antenna pertama yang terbayang buat dibentang oleh mereka yang “serba cekak” tadi ….

Kalo’ dikaji baik-baik, segala jenis kawat dengan bermacam ukuran panjang dan diameter  memang BISA dibentang untuk dijadiin antenna, tentunya dengan mempertimbangkan (dan bersedia menanggung akibatnya) kelebihan dan kekurangan dari masing-masing jenis.

Di literatur eks luar pager sering ditemui cerita tentang rekan amatir yang berbangga  bisa DX-ing dengan antenna yang dibikin dari serendeng jepitan kertas (paper clips), serendeng pèr yang dicopot dari rongsokan spring-bed, serendeng bekas kaleng soft drink atau beer yang disolder sambung menyambung, atau dengan antenna yang memang bener-bener dibikin dari kawat jemuran (clothes line). Cuma jangan dibayangin kawat jemurannya rekan-rekan di Amrik sono sama “plek” dengan kawat jemuran sini, yang biasanya dibeli kiloan dari toko mate- rial bangunan yang ‘ngejualnya dalam bentuk gulungan berdiameter sehasta @ 1 kiloan itu. Setau penulis (yang kadang-kadang suka sok-tau, héhéhé) clothes line ex Amrik biasanya berdiameter seukuran batang korek api, dibikin dari kawat anyaman (stranded wire) alus dari bahan nirkarat (tapi bukan stainless steel), jadi tidak dikhawatirkan bakal menodai baju seragam yang putih-putih dengan karat-nya seperti yang suka terjadi dimusim hujan dengan kawat jemuran eks toko material tadi …..

Random length vs Long wire Antenna
‘Nggak usah se-ekstrim seperti pada contoh di atas, bahasan kali ini kita awali aja dengan sepotong (atau sak ler) kawat tembaga berdiameter sekitar 1.2 – 2mm. Sebagai pertimbangan untuk memilih diameter kawat amati dulu lingkungan sekitar, apakah suka dipaké anak tetangga buat adu layang-layang ‘nggak? Kalo’ ya, ambil kawat yang diameternya gedéan


Bahannya sendiri terserah sak-dapetnya, boleh kawat tembaga telanjang atau kawat BC/ bare copper wire yang dulu dipaké sebagai penyalur line telpon dari tiang-ke-tiang (sekarang yang diameternya gedéan dipaké sebagai kabel grounding pada instalasi listrik dirumah-rumah), atau kawat tembaga bersalut email (opa-opa doeloe menyebutnya sebagai email draad, atau yang sekarang lebih populer dengan sebutan kawat dinamo), atau bisa juga kawat tembaga bersalut vynil misalnya kawat NYAF, kabel aki, kabel speaker dsb. Kalo’ tidak terpaksa banget hindari memakai kawat jemuran eks toko mate- rial tadi, yang beginian sebenarnya kurang bagus untuk ‘ngebahan antenna karena terlalu lemas dan gampang molor (sehingga jadi sagging atau ‘ngegelendong yang bikin titik resonannya bergeser), konduktifitasnya rendah, resistansinya tinggi dan gampang karatan.

Untuk panjangnya bisa dikira-kira saja, potong secara acak antara 17 - 26 meteran  (lebih panjang lebih baik, tapi jangan lebih dari 35 meteran), yang diasumsikan bisa “mendekati” ukuran panjang 1/4 dan 1/2λdi band 80 dan 40M.

Karena dipotong secara acak (random) begitu, di terminoloji per-antenna-an antenna  macam begini lantas disebut sebagai RANDOM LENGTH antenna alias antenna dengan panjang acak.

Dengan ukuran yang relatip memang panjang (long), apalagi kalo’ dibandingin sama  jepitan kertas atau per spring bed tadi, banyak yang salah kaprah menyebut antenna kawat acak ini sebagai LONG WIRE Antenna, yang sebenarnya merupakan sebutan yang diberikan kepada an- tenna yang panjang fisiknya merupakan perkalian (ganjil maupun genap) dari ukuran panjang 1λ, seperti pada antenna Vee, Rhombic dan Bever- age Antennas, yang di lingkungan amatir jarang dipakai untuk di low-band HF karena ukurannya yang ‘ngabisin lahan tersebut. Kalaupun ada, pal- ing-paling yang dipaké adalah Beverage antenna yang memang terkenal sebagai receiving antenna bagi para DX-ers yang ber-low-band DXing di 160 dan 80M. Salah satu pengguna Beverage Antenna di Jakarta adalah OM Jo, YBØLOW, yang memang penggemar berat ‘nge-DX di 160M.

Pada instalasinya, karena keterbatasan lahan dan dana (untuk beli kabel coax) RANDOM WIRE antenna ini biasanya diumpan pada salah satu ujungnya (karenanya lantas disebut sebagai END FED antenna, seperti yang jadi judul bahasan edisi ini) atau tepatnya pada sisi pangkal atau ujung yang di bawah yang dekat TX. Dalam praktek sering dijumpai rekan amatir yang merentangnya langsung dari hamsack (ruang operate) ke titik setinggi mungkin di luar sana.


Kalo’ bentangannya ‘nggak panjang-panjang amat, tarohlah dari jendela hamshack  langsung ke kèrèkan (burung) perkutut di kebon belakang, maka tongkrongan macam ini banyak yang menyebutnya sebagai sloping wire antenna, alias antenna kawat yang dibentang doyong atau mir- ing. Yang cukup panjang, sehingga perlu dibentang diantara 2 tiang, lantas dikenal dengan sebutan INVERTED- L antenna (biarpun mirip, pse jangan di-keliru-kan dengan L-antenna — tanpa kata Inverted —, yang pernah di wedar di BEON

Kalau panjang antenna acak ini sekitar 20 meteran (yang dekat dengan kepanjangan 1/4λ  pada band 80M) dan dinaikin dengan grounding system (sistim pertanahan) yang baik, maka an- tenna ini ya lantas bekerja seperti antenna 1/4λ biasa, dan karenanya bisa saja disebut sebagai 80M end-fed MARCONI antenna, atau antenna Marconi yang diumpan dari pangkalnya. Barangkali masih ada yang ingat, kinerja antenna Marconi macam ini bisa ditingkatkan kalo’ instalasinya dibikin OFF-GROUND (tidak terlalu dekat sama tanah) dan radial-nya dibuat floating (mengambang) juga beberapa cm DI ATAS tanah ( = tidak ditanam).

Di 40M panjang kawat tersebut jadi mendekati ukuran 1/2λ, maka antenna akan bekerja sebagai 40M end-fed half-wave Dipole atau 40M end-fed-HERTZ, yang seperti umumnya antenna jenis 1/2λ akan bisa bekerja dengan baik tanpa menuntut grounding system yang macem- macem.

Pada awal kebangkitan amatir radio di bumi anak negri di era 60-70an, end-fed antenna  macam ini biasanya diumpan langsung dari out- put TX all “tabung” yang kebanyakan memakai rangkaian Pi-section pada rangkaian final-nya, yang terkenal gedé toleransinya terhadap nilai impedansi di pangkal antenna tersebut.

Sejak 15-20 tahunan terakhir, di mana hampir semua rig atau transceiver dibuat dengan output 50 ohm - unbalance (karena diniatkan untuk dihubungkan ke antenna dengan kabel coax) maka untuk bisa bekerja dengan baik di pangkal antenna Random Wire tersebut perlu dipasangkan sebuah MATCHING UNIT (rangkaian penyelaras) sederhana berupa rangkaian LC yang diparalel (pada end fed Marconi, dengan low im- pedance), atau diserie (untuk end-fed Hertz dengan impedansi tinggi di pangkal atau feed pointnya), untuk menjodohkan (atau menyelaraskan)-nya dengan output rig yang 50 ohm unbalanced tersebut.


Pada rangkaian-rangkaian di atas umumnya dipakai Varco atau variable capacitor dengan  nilai +/- 150 pf sebagai komponen C, sedangkan L1 dibuat dengan 30 lilitan kawat dinamo 1.6 - 2 mm (AWG # 14 – 12) pada koker dari pipa PVC dia. 2” (5 cm), atau syukur-syukur kalo’ ada diantara para homebrewers yang bisa ‘ndapetin roller inductor yang tinggal diputar-puter itu, karena dengan L1 yang home brew ‘gitu memang dibutuhkan ke-tlatèn-an ekstra untuk mencari titik tapping yang tepat, apalagi kalo’ mau di tap di beberapa titik untuk mencari titik matched di berbagai band.

BTW, kalo’ memang diniatkan untuk bisa dipaké bekerja Multiband, ya mesti diakali  supaya komponen-komponen Matching unit tersebut (terutama Varco-nya) bisa diswitch atau di jumper sesuai keperluan, mau di serie atau di paralel. Sekedar memudahkan pengerjaan, seyogyanya Varco–nya dibikin floating (‘ngambang) terhadap Ground, artinya disamping shaft atau as-nya yang mesti di-isolir terhadap kenop (yang nantinya bakal kepegang tangan operator), stator-nya pun ‘nggak boleh sampai ‘nempel atau bersinggungan dengan chassis, dan stator tersebut nantinya di- jumper ke chassis cuma di saat diperlukan sambungan parallel saja.


Untuk menentukan keluaran mana (low atau high impedance) yang pas dengan impedansi di feed point maka perlu diamati distribusi arus dan tegangan (current and voltage distribution) sepanjang element antenna tersebut:  kalo’ pangkal antenna jatuh di titik dengan voltage maxima berarti impedansi-nya tinggi, sebaliknya kalo’ jatuh di titik dengan current maxima impedansinya akan rendah. Yang perlu diperhatikan pada waktu instalasi adalah titik dengan current maxima (dari mana sinyal RF di”lempar” ke angkasa) harus diusahakan untuk bisa berada di ujung atas, dan seyogyanya bisa diposisikan setinggi mungkin dari permukaan tanah.

End fed Marconi atau Hertz ini bisa dipakai sebagai antenna yang efektip dalam  situasi darurat, Field day dsb., apalagi kalo’ dari awal disiapkan untuk bisa bekerja multiband seperti disebutkan di atas, misalnya dengan bergantian antara 40M untuk siang dan 80M untuk di malam hari); walaupun tidak ada yang bakal melarang kalau ada yang mau memakainya untuk keperluan sehari-hari di QTH, misalnya yang belakangan ini dilakukan oleh OM Firson, YCØLZH/1, atau OM Urip, YCØKMU.


Barangkali layak juga buat diingat, salah satu variant dari end-fed random length  antenna ini adalah Antenna W3EDP (lihat BEON 0408, Januari 2005), walaupun pada rancangan ini panjang elemennya sudah tidak ‘ngacak lagi, karena mesti dipotong persis sepanjang 25,60 mtr (= 84’ ).

Belakangan ini yang menarik untuk diamati adalah eksperimen yang dilakukan OM Budi,  YC2UM, yang mengumpan 3-wire elemen sepanjang 3/4λ pada ujung bawah atau pangkal yang dekat TX. Sepanjang pengamatan penulis selama beberapa bulan, kinerja rekaan mas Budi ini cukup meyakinkan karena sinyalnya selalu terdengar “mantap” dan cukup dominan di band 80M.

Buat yang ‘pingin ikutan ‘ngejajal di band-band lain (mungkin karena lahan yang ada  tidak se- mendukung di YC2UM untuk ‘ngebentang versi 80M) skemanya diberikan di gambar berikut, yang untuk menyederhanakan penggambaran dibentuk sebagai sebuah inverted L seperti contoh instalasi yang disebutkan di atas, walaupun tergantung sikon setempat, tidak tertutup kemungkinan untuk membentangnya sebagai sloping wire juga seperti yang dicontohkan di depan.

Seperti terlihat pada gambar, di ujung atas ketiga kawat saling di short, sedangkan di pangkal- nya hanya kawat-kawat di sisi luar yang saling di jumper, sedangkan kawat yang ditengah langsung dihubungkan dengan
Matching unit.

Nah, sepanjang hampir 4 tahun ‘ngobrol-‘ngalor - ngidul ini kita sudah menjumpai sederetan nama .... sebut aja dari era tahun 20-an ada nama John Krauss, W8JK, yang “bapak” phased ar-rays, Yagi-Uda pendahulu rancangan antenna pengarah dengan parasitic elements, kemudian ada Lorens G Windom, W8GZ, yang melansir rancangan off-center fed-nya di awal 30an, disusul W3EDP dengan antenna panjang acak yang tidak
‘ngacak di sekitar paruh ke dua 30an juga, Louis Varney, G5RV, yang mengaplikasikan  extended collinear double Zepp di sekitar paruh kedua tahun 40an (dan kemudian lantas “mendunia” di tahun 80an), Les Moxon, G6XN, yang memelopori pemendekkan Dipole sebagai Driven Element dengan menekuknya ke-arah “dalam” di dasa warsa 90an, serta nama-nama lain …., dan tentunya deretan nama tersebut tidak akan berhenti disitu saja, karena sepertinya banyak yang masih bisa di-othak-athik dari “sak-ler kawat” yang pada dasarnya merupakan perkalian atau pembagian dari ukuran 1/2λ (atau disebut juga sebagai kelompok atau keluarga besar Hertzian antenna) itu.

So, di edisi depan kita tentu bakal ketemu dengan nama-nama lain lagi, sapa tau atau syukur-syukur kalo’
ada yang bener-bener nama dari bumi anak negri sendiri, ya kaaan …. Untill then, CU es

73 …

Ngobrol Ngalor Ngidul 0408

Ngobrol Ngalor Ngidul 0408  

W3EDP, rancangan antenna untuk penghuni kapling BTN 6 x 15 mtr2

kalo’ ada pertanyaan silah kirim via orari-news@yahoogoups.com, atau langsung ke
unclebam@indosat.net.id

Salah satu rancangan antenna dari zaman voor de oorlog (sakbelonnya PD-II) yang di era  serba dijital ini kembali dilirik orang adalah rancangan W3EDP ini. Sama dengan G5RV yang sudah duluan populer, nama antenna ini merujuk kepada callsign dari penemunya. Berbeda dengan G5RV yang dikenali sebagai callsign OM L. Varney, saat ini sudah tidak bisa dirunut balik lagi siapa nama di belakang call sign W3EDP tersebut. Asal tau aja, rancangan ini sudah dipakai di lingkungan amatir sejak sekitar paruh kedua dasawarsa
30an.

Sampai akhir dasawarsa 90an kemarin, di kalangan QRPers dan apartment dwellers (penghuni apartemen atau condo) di negri- negri seberang lautan antenna rekaan W3EDP ini cukup populer adanya. Walaupun W3EDP semula cuma meniatkan antennanya untuk dipakai saat Field day, working portable atau pada kondisi darurat/emergency - sebagai instalasi sementara atau sekedar sebagai back up, ‘nyatanya banyak yang lantas keterusan memakainya sebagai antenna permanen di QTH, lantaran desainnya yang sederhana, ukuran-ukuran yang masih “ketanganan” untuk dikerjain sendiri, dan dengan kinerja yang memadai sebagai sebuah Multi-band (80-10M) antenna.

Kaya’nya W3EDP mereka rancangannya ini sebagai sebuah end-fed RANDOM WIRE ANTENNA (antenna dengan kepanjangan acak), walaupun sekarang sudah ‘nggak ‘ngacak lagi, karena panjangnya mesti diukur bener sepanjang 25,60 mtr (= 84’ ). Untuk bisa bekerja multi band diperlukan sebuah Matching Unit berupa rangkaian Parallel LC tuner dan 2 buah counterpoise sepanjang 5,18 mtr (untuk band 80 - 40 - 15 - 10 M) dan 1,98 mtr (khusus untuk band 20 M).


Keterangan Gambar:

z Elemen antenna, seyogyanya dari kawat stranded (bukan kawat solid atau tunggal), berisolasi (berlapis           plastik/vynil), sepanjang 25.60 mtr.
z Matching unit, terdiri dari:
„ L1: koker PVC dia 2”, lilitan dengan kawat # 16-18 (1 – 1,2 mm), L total 21 lilit (untuk 80M), di tap pada    lilitan ke 7 (40M), dan ke 5 (20M keatas)
„  L2: 2-4 lilit kawat email # 14-18 (1 – 1,6 mm), dililitkan pada cold end (sisi bawah) L1.
„  C: variable capacitor 360-500 pf (BC Type, 2- gang @ 250 pf)
z 2 buah counterpoises, seyogyanya dibuat dari kawat bersalut (mis. kabel NYAF),  masing-masing sepanjang 5,18 mtr (untuk80-40-15- 10M) dan 1,98 mtr (untuk 20M).

Rangkaian Matching unit ini harus floating (mengambang) terhadap Ground, jadi semua  komponen mesti diisolasi terhadap chassisnya,. sedangkan untuk C-nya disamping harus terisolir terhadap chassis (dan Ground) juga shaft (as)nya mesti diisolir terhadap kenop atau tombolnya, karena semua bagian variable kapasitor ini akan HOT with RF pada waktu ‘mancar, sehingga bisa-bisa jari operatornya mak-nyooos keslomot RF(!).


Salah satu alternatip untuk peng-kopel-an L1 ke TX adalah seperti digambarkan di sebelah, dimana inner conductor dari coax (yang dari TX) langsung di-tap-kan pada L1, walaupun cara ini agak merepotkan pada waktu penalaan pertama, karena mesti ‘ngerok (bisa pakai amplas, pakai cutter dsb.) lapisan email pada kawat dimana nantinya ujung coax tersebut di tap-kan, dan titik tapping ini mesti dicari satu-satu untuk tiap-tiap band ….

Dari semua literature dan publikasi yang ada di koleksi perangkum, belum pernah bisa ditemukan “cerita dibalik fakta” bagaimana dan dari mana W3EDP mendapat wangsit untuk ukuran-ukuran yang terbilang ‘nylenèh dan ‘nanggung tersebut (untuk 80M ukuran ini lebih panjang dari 1/4ƒÉ, tapi kurang dari 3/8ƒÉ), tapi barangkali bukan cuma kebetulan kalau angka 84’ tersebut mendekati angka “love-‘n-kisses”nya empu (per-antenna- an) LB Cebik, W4RNL yang 88’ (26,82 mtr), yang ditemukan Cebik sekitar setengah abad kemudian melalui berbagai eksperimen dan simulasi di komputernya (lihat bahasannya di BeON beberapa edisi yll.).

Beda utama antara kedua rancangan tersebut adalah Cebik memang meniatkan kawat 88’ tersebut untuk diumpan ditengah-tengah (sebagai sebuah center-fed Doublet), sedangkan seperti dibilang di depan W3EDP dari sono-nya merancangnya sebagai sebuah end-fed antenna. Untuk mereka yang berminat (dan kebetulan juga tahu caranya), barangkali studi Cebik lewat simulasi computer tersebut (pakai program ELNEC dari  Roy M Wallen,W7EL - bisa dilihat di situs http:// www.cebik.com) bisa dipakai juga untuk “menelaah” antenna ini.

Dalam bahasa awam, bisa di runut bahwa di 80M antenna ini bekerja sebagai end-fed Marconi antenna biasa (mungkin dengan kinerja yang sedikit lebih baik dengan adanya sedikit kelebihan panjang yang disebut di atas), di 40M sebagai antena end-fed Hertz (half wave) antenna, di 20 M sebagai 2x half wave collinear . . . .dst.


Berbeda dengan antenna Marconi yang memerlukan grounding system yang nyaris sempurna  (dengan sekian banyak radials) untuk bisa bekerja dengan baik dan efisien, seperti  disebut diatas W3EDP hanya memerlukan kedua counterpoises tadi untuk bisa bekerja multi-band.

Syahdan, kata sahibul hikayat, di tahap-tahap awal eksperimennyaW3EDP ‘ngebentang  kawat yang 25.60 mtr tersebut dari hamshack ke pucuk pohon eik di belakang rumah, dan cara yang serupa tapi tak sama juga dilakukan para apartment dwellers di zaman modern ini. Ada yang menceritakan bagaimana dia “narik” bentangan kawatnya dari balcony lantai 5 ke pucuk tiang bendera di lapangan parkir di depan kompleks(!), dan counterpoisenya di klèwèrin begitu aja dilantai balkon.Tidak diceritakan bagaimana kinerja antenna yang jadinya ‘nungging kearah bawah tersebut, tapi barangkali yang mau di point out adalah bagaimana sederhana dan “nggak rewel”nya rancangan ini … .. Trus, bagaimana menerapkan rancangan ini di kapling BTN seperti disebut di judul risalah ini?

Satu kiat dalam ‘mbentang antenna adalah bahwa kawat yang 25 meteran tersebut tidak harus dibentang tegak lurus, jejeg vertikal 90' terhadap permukaan bumi (!). Yang penting asalkan bagian elemen dengan current maxima (atau node) bisa berada di posisi setinggi mungkin serta se”bebas” mungkin dari dedaonan, atap tetangga, penangkal petir, tower, line PLN – apalagi yang SUTET atau SUTEM, antenna TV atau parabola, dll). Nah, dengan kiat ini kita coba ‘ngakali bagaimana ukuran yang 25 mtr tersebut bisa “masuk” ke lahan yang pas-pasan (untuk antenna 80 dan 40M) tersebut.

Seperti disebut duluan, karena menyangkut perkara keamanan W3EDP sebaiknya dibikin dari kawat bersalut (atau kabel), karena kalau pakai kawat telanjang, sapa tau sewaktu- waktu bisa putus dan jatuh pas ‘nimpa kawat listrik (atau telpon) yang ‘mbentang didepan rumah? Juga dari segi kenyamanan (convenience ) dalam membuat dan mengoperasikannya, karena kabel beginian biasanya cukup lemas (ketimbang kawat tembaga bersalut email/kawat dinamo) buat ditekak-tekuk dan diregang sana-sini pada proses instalasinya.

Di pasaran barang-barang kelistrikan dikenal kabel NYAF (yang bisa ditemui dengan berbagai ukuran/diameter) atau bisa juga dipakai kabel speaker yang cukup baik kwalitasnya (seperti kabel audio Monster, tapi cari yang masih kluaran negeri sebrang, karena akhir-akhir ini banyak beredar kabel speaker Monster-monsteran yang ‘nggak lebih baik dari kabel speaker merah-item yang dulu banyak dipakai di kalangan audiophile.kelas menengah kebawah)

Taruhlah hamshack anda ada dibagian depan rumah (misalnya di kamar tamu atau kamar tidur depan), atau ekstrimnya justru dibagian belakang (dekat dapur atau kamar pembantu …). Nah, dari jendela (atau lubang angin) tariklah kawat elemen antenna tersebut ke lijstplank rumah (sebaiknya di situ dipasang isolator dari materi non-konduktip seadanya, supaya kawat ‘nggak sampai ‘nempel langsung ke bidang lijstplank), terus dari situ tarik atau kèrèk keujung tiang bambu yang sebelumnya sudah dipancang di pojok lahan (boleh pojok depan atau pojok belakang, tergantung posisi hamshack). Dari situ tarik ke pucuk tiang bambu satu lagi yang juga sudah dipancang duluan di pojok lahan yang berseberangan dengan posisi tiang pertama (bentangannya jadi kearah diagonal, misalkan didepan dipojok kiri dan di belakang di pojok kanan), Nah, sekarang ukur (atau dikira-kira aja SEBELUM proses bentang-membentang dimulai) berapa meter kawat yang sudah terbentang  …..

Misalkan dari jendela ke lisjtplank ada tarikan sepanjang 2 mtr, terus naik ke ujung bambu # 1 sekitar 5 meteran,‘ngebentang lagi ke tiang # 2 barang 15 mtr, dengan demikian sudah terbentang (2 + 5 +
15) = 22 mtr kawat. Untuk meng”genap”kan jadi 25 mtr +, klèm atau ikatkan sepotong  pipa aluminium dia. 1/2–1” sepanjang 3 mtr (inipun boleh dibikin telescoping dari 2 atau 3 pipa berlainan diameter) di ujung atas tiang # 2 tadi. Supaya ‘nggak short, ada baiknya bagian pangkalnya di selongsong paké pipa PVC yang inner diameternya tibang pas untuk “telescoping” dengan pipa aluminiumnya (supaya rapi dan ‘nggak gampang oblak). Ujung elemen kawat sebaiknya diterminasi dengan cable shoe yang berbentuk ring atau fork, terus nantinya di tancep dengan sekrup tanam (self tapping screw) ke ujung bawah pipa aluminium yang sudah berselongsong PVC tadi ….

Nah, selesailah sudah urusan bentang- membentang kawat. Idealnya sih Matching Unit  ditaruh persis dibawah pangkal kawat yang di jendela tadi, tapi kalau ini jadi bikin repot (karena anda mesti ‘ngluarin tangan tiap kali mau tuning waktu pindah band), siapkan +/- 1 mtr potongan kabel coax bekas (bisa RG-58 yang 50 ohm, atau RG-59 yang 70 ohm – karena dengan panjang cuma segitu untuk di band HF urusan impedansi dan Velocityfactor ‘nggak usah dipusing-pusingin amat) untuk menghubungkan elemen antenna menyelip-nyelip diantara jalusi lubang angin sampai ke Matching Unit. Yang disolder- sambungkan adalah inner conductor dari coax, sedangkan salah satu ujung shield atau outer braid-nya kalau bisa sebaiknya di-short atau di jumper ke chassis Matching Unit, sehingga dia menjadi bagian dari keseluruhan konfigurasi elemen antenna-Matching Unit- counter poises yang justru harus berada di posisi floating terhadap Ground seperti disebut di depan.

Kalau anda cuma mau bekerja monobander, tentunya Matching Unit-nya bisa dibuat  sesederhana mungkin, karena tidak diperlukan tapping macem-macem. Kalau memang maunya kerja multi-bander, ya mesti tlatèn waktu menalanya (tuning) untuk mencari titik tapping yang paling pas pada tiap band. Idealnya adalah kalau didapat posisi tapping dimana bukaan Variable kondensator C berada di posisi tengah-tengah (jam 12), terutama di band-band yang memang lebar rentangannya (seperti 500 kc pada 80M dan350 kc di 20M), supaya gampang kalau harus hopping from edge-to edge (‘cat-loncat dari ujung-ujung band, misalnya waktu lari-lari dari main CW di segmen bawah trus main voice di phone band, di atas).

Nah, kembali obrolan kali ini kita cukupkan sampé di sini dulu, dan seperti biasa  untuk edisi mendatang kita sama-sama cari ihwal per-antenna-an lainnya, yang enak buat diobrolin ramé-ramé ……..

Until then …. CU ES 73.